Ingin rejeki yang berlimpah? Coba mulai amalkan ini!

Hidup yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita merupakan anugerah maupun sebagai cobaan kepada kita. Hidup kita anugerah apabila bisa kita isi dengan amal kebaikan yang bisa menjadi bekal kita untuk kehidupan di akhirat. Hidup kita dikatakan penuh cobaan karena kita tahu selama kita hidup tidak selamanya mulus tanpa cobaan. Ada kalanya kita ditimpa bencana, kesedihan, maupun diberi kebahagiaan, kesenangan, dimana semua hal yang menimpa hidup kita apakah bisa menjadikan diri kita bisa bersyukur ataupun bersabar. Bersyukur saat diberikan kesenangan, bersabar saat diberikan kesedihan. 





Salah satu hal yang sering kita temukan adalah momen momen menghadapi kesedihan maupun situasi yang tidak menyenangkan. Rasanya ingin segera keluar dari situasi itu. 

Rasanya ingin cepet cepet beres masalahnya. Inginnya kita segera ketemu jalan keluarnya.


Tapi terkadang kita sering lupa. Bahwasanya saat Allah SWT memberikan suatu cobaan, Allah SWT sudah mengukur kemampuan hambanya sehingga Dia berikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba Nya. Ini sesuai dengan QS Al-Baqarah ayat 286. 


Namun ada suatu amalan yang apabila kita kerjakan secara terus menerus, Allah SWT akan selalu mendampingi kita dan memberikan jalan keluar kepada kita. Ini sesuai dengan QS At Thalaq ayat 2-3 



Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. 


Coba perhatikan kalimat pertama pada kutipan ayat diatas!


Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan :

  1. mengadakan baginya jalan keluar

  2. Memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka sangka


Jadi, ganjaran orang yang bertakwa ini luar biasa besar. Jaminan jalan keluar dan rezeki yang tidak disangka sangka bagi orang yang bertakwa. 


Nah, pertanyaan nya, bertakwa itu seperti apa itu? 


Maksudnya, yang dikatakan takwa itu apakah kita meyakini kita ini sudah bertakwa sepenuh hati? 


Apakah takwa itu ada defenisi realnya? 


Bila kita merujuk lagi kepada Al Qur'an (ini sesuai penjelasan ustadz ustadz saat ceramah) , bertakwa itu seperti yang dijelaskan pada QS Al-Baqarah ayat 2-5 yaitu 


2. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,


3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,


4. dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.


5. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.


Dari ayat ayat ini, defenisi orang yang bertakwa itu lebih jelas, yaitu ;

  1. Mereka beriman pada yg gaib

  2. Melaksanakan sholat

  3. Memberikan sebagian rezeki yang diberikan oleh Allah SWT

  4. Beriman kepada Al Qur'an dan kitab kitab yang telah diturunkan sebelumnya

  5. Mereka yakin adanya akhirat 


Disini makna orang yang bertakwa amat jelas. Kita lakukan semua yang diperintahkan Allah SWT sesuai Al Baqarah ayat 2-4 maka kita tergolong orang yang bertakwa. Bila kita bertakwa, maka Allah SWT akan memberikan jaminan,

  1. mengadakan baginya jalan keluar

  2. Memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka sangka


Sebenarnya ada lagi defenisi orang yang bertakwa sesuai QS Al Imran ayat 133-134 yaitu 


Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”


“(yaitu) orang-orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema‟afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”


Konsep orang yang bertakwa sesuai Ali Imran 133-134 yaitu 

  1. Orang yg berinfak baik di waktu lapang maupun sempit 

  2. Orang yg menahan amarahnya

  3. Orang yang memaafkan kesalahan orang lain


Nah bila kita sudah mampu melakukan ini, kita sudah tergolong sebagai orang yang bertakwa. Bila kita sudah bertakwa, maka Allah SWT memberikan jaminan solusi solusi dan jalan keluar yang sedang kita hadapi.


Sebagai tambahan lagi, defenisi orang yang bertakwa sesuai dengan penjelasan QS Al-Baqarah ayat 177


Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.


Kesimpulan nya adalah bila kita bertakwa maka Allah SWT akan memberikan jalan keluar dan solusi atas permasalahan hidup kita sesuai dengan QS At Thalaq ayat 2-3. Maksud dari orang yang bertakwa itu sendiri adalah kita mengerjakan hal hal sesuai yg dijelaskan dalam Al Qur'an yaitu QS Al-Baqarah ayat 2-4 dan QS Al Imran ayat 133-134 maupun QS Al-Baqarah ayat 177


Orang bertakwa itu yaitu Mereka beriman pada yg gaib, melaksanakan sholat, memberikan sebagian rezeki yang diberikan oleh Allah SWT, beriman kepada Al Qur'an dan kitab kitab yang telah diturunkan sebelumnya, Mereka yakin adanya akhirat,  Orang yg berinfak baik di waktu lapang maupun sempit , orang yg menahan amarahnya, orang yang memaafkan kesalahan orang lain



Saya menulis ini sebagai perenungan untuk diri saya sendiri dan sekaligus sharing kepada rekan rekan pembaca. Ilmu saya sendiri masih sedikit. Andaipun nanti ada hal hal yang perlu dikoreksi pada tulisan ini, silahkan langsung hubungi saya.

Share:

Yang Paling berat bagi Rasulullah....

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh ibunda Aisyah radhiallahu anhu. Ibunda Aisyah bertanya pada Rasulullah ﷺ 

"ya Rasul apa yang menurutmu lebih berat daripada peristiwa Uhud"

Hadits ini merupakan hadits shahih diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim. 

Mari kita simak pertanyaan dari ibunda Aisyah RA.

ibunda Aisyah radhiyallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

" ya Rasulullah apa yang paling berat bagimu selain peristiwa Uhud?"

sekarang kita flashback sebentar untuk mengetahui apa sih yang terjadi pada peristiwa uhud. Perang Uhud adalah perang ke-2 yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap kaum Quraisy Mekah. Saat itu,  saat jumlah kaum muslimin masih sedikit, keberadaannya belum kuat. Kaum Muslim masih kaum yang tertindas tapi sudah mulai merintis hidup di Madinah. 

Keadaannya waktu itu kaum Quraisy Mekah selalu mengganggu kaum muslim yang ada di Madinah. Mereka masih mengintimidasi orang orang Muslim. 

Kita tahu saat peristiwa perang badar Rasulullah dan para sahabat berhasil mengalahkan kaum Quraisy Mekkah. 

Tapi kebalikannya,  yang terjadi pada perang uhud bisa dikatakan umat Islam hampir saja kalah. Bahkan pada peristiwa itu, sempat Rasulullah dikabarkan telah wafat.

Sebenarnya saat perang awal,  kaum muslimin sudah hampir menang. Hanya saja karena ketidakdisiplinan kaum muslimin untuk tetap di barisan pemanah yang berada di atas gunung,  mengakibatkan kaum muslimin bisa dipukul mundur oleh pasukan Khalid bin Walid.  Khalid bin Walid waktu itu masih belum masuk Islam.

Singkat cerita,  peristiwa uhud merupajan peristiwa yang cukup menyedihkan. 70 sahabat rasulullah   meninggal. Paman Beliau, Hamzah radhiallahu Anhu juga meninggal. Bahkan dikisahkan jasadnya setelah mati dicabik-cabik oleh kaum Quraisy. 

Pada peristiwa itu juga Rasulullah mengalami luka yang cukup parah. Gigi Rasulullah patah. wajahnya terluka. rantai yang digunakan untuk melindungi wajah Rasulullah itu ada yang menempel di dahi Rasulullah ﷺ.  Bayangkan perasaan Rasulullah waktu itu seperti apa. 

Kembali ke pertanyaan ibunda Aisyah saat bertanya pada Rasulullah. 

"ya Rasulullah apa yang lebih berat bagimu selain peristiwa Uhud?

sekarang kita simak jawaban Rasulullah 

" Dulu, Saat itu aku berdakwah ke thoif.  saat aku diusir dari Mekkah, aku memilih Thoif untuk tempat berdakwah."

 "Tapi bukan penerimaan yang aku dapatkan kan melainkan cacian, hinaan, siksaan yang aku terima dari masyarakat Thoif. "

"Orang-orang menutup pintunya. orang-orang mengatakan aku tidak waras. orang-orang mengatakan aku penyihir. Bahkan anak-anak kecil berlari-lari mengejar ku sambil melempar batu"

"Dalam keadaan yang seperti itu, aku melihat gumpalan awan yang menaungiku.  dari sana aku melihat Jibril alaihissalam dan menemuiku. Jibril berkata "ya Rasulullah sesungguhnya Allah azza wa jalla telah melihat apa yang kaum mu lakukan kepadamu.  sekarang Allah mengutus dua malaikat penjaga gunung untuk menerima semua perintah mu. Para malaikat itu berkata, seandainya engkau suruh kami untuk menimpakan gunung ini kepada mereka pasti akan kami kerjakan"


Jadi dalam peristiwa itu, Allah mengutus malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung untuk membalas perlakuan kaum Thoif , yang  telah mengusir dan  telah menghina Rasulullah. 

Andaikan saja kita yang berada di posisi itu, saat kita dihina, saat kita disakiti, tiba-tiba bantuan datang kepada kita dan menawarkan bantuan sekiranya apa yang bisa mereka lakukan untuk membalaskan sakit yang telah kita terima, kira kira apa yang akan kita lakukan ?


Tapi lihat jawaban Rasulullah  ﷺ menjawab,

"Tidak. aku tidak menginginkannya" 

maksudnya aku tidak ingin gunung itu ditimpakan kepada mereka

"justru aku berdoa, supaya dari keturunan mereka, akan lahir orang-orang yang akan membela Islam, menjadi penerus dakwah Islam"

Faktanya hari ini, dari beberapa berita yang kita terima orang-orang, Thaif adalah orang-orang yang benar-benar menjadi pembela agama Islam.

nah kembali ke pertanyaan ibunda Rasulullah,

"ya Rasulullah apa yang lebih berat bagimu selain peristiwa Uhud?" 

yang berat bagi Rasulullah itu adalah saat kekuasaan ada ditangan Rasulullah ﷺ .

saat kuasa untuk menghukum kaum yang telah menyakiti, ada di tangan Rasulullah ﷺ , tapi Rasulullah ﷺ  memilih memaafkan kaumnya,  memaafkan kaum Thaif yang  justru dengan memaafkan itu, lahir generasi yang mencintai dakwah Islam, mencintai agama Allah.

 Masya Allah..


bunyi hadis asli nya 

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh istri tersayang, yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah datang kepadamu satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril  , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.” [1] Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”.

[HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim]

Share:

Harus End to End


Sudah 3-4 bulan ini konsisten menahan sampah dapur agar tidak dibuang ke tong sampah. Sampah sampah itu dimasukkan ke dalam galon air. Sampah itu diberikan bakteri pembusuk lalu pupuk cairnya dipanen.
.
.

Tapi sampah dari dapur setiap hari ada terus. Semakin mengurangi kapasitas galon nya. Otak berfikir. Masa iya cuma diambil pupuk cairnya lalu ampasnya dibuang lagi ke tong sampah? Sama aja dong. Otak terus berfikir.
.
.
Akhirnya diputuskan, ampas dari sampah organik ini harus dimanfaatkan. Saya pakai untuk tambahan di pot tanaman. Alhamdulillah sudah sejak 4 bulan lalu tidak pernah lagi buang sampah organik dan jumlah tanaman meningkat.
.
.
Sebenarnya ada cara lain supaya sampah organik itu habis. Bisa gunakan magot bsf, bayinya lalat. Ampuh memang. Sampah nya akan habis dimakan mereka. Cek aja di YouTube. Cuma cara ini gk praktis diterapkan di lingkungan perkotaan yg padat. Bisa bertengkar dengan tetangga gara gara bau dan "jijik" nya. Hehe
.
.
Sementara ini saya masih konsisten dengan galon itu. Air lindinya saya ambil, ampas sampah organik saya gunakan untuk menanam. Efektif. Saya dan istri zero waste sampah organik. Tapi gk zero waste juga. Ternyata jumlah tanaman semakin banyak. Ini mulai berfikir mau ditempatkan dimana pot pot besar nya wkwk. Biar urusan nanti.
.
.
Kalo saja saya punya kebun, sampah nya saya tanam ke kebun. Efektif untuk pupuk tanaman. Tapi berhubung belum punya, ya cara ini aja dlu.
.
.
Skala lebih besar, bila dinas pertanian dan dinas kebersihan kota kerja sama, harusnya masalah sampah ini gk jadi masalah lagi. Sampah sampah organik dari kota bisa digunakan untuk pupuk tanaman. Atau juga kebun kebun . Sampah sampah itu gk jadi masalah terus di TPA, tempat pembuangan akhir.
.
.
Tapi sebelum jauh jauh ke pemerintah an, kita mulai yuk dengan 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang. Dengan demikian, kita gk jadi penyumbang masalah dimanapun berada.
.
.
Tanamannya sehat, kotanya bersih, TPA nya juga gk bau. Insya Allah
.
.
#sedekahopini
#menulispositif
#greenEngiNeeRinG
Share:

petani dan perkawinan kota & desa


Petani eksisting ialah petani yg kita lihat sekarang. Petani yg hidup didesa, menanam padi, menunggu 4 bulan, panen lalu dijual ke pengepul.
.
.

Proses ini berlangsung setiap 4 bulan, sepanjang tahun dan bertahun tahun selama petani tsb hidup. Hal yang sama juga terjadi pada petani jagung, sawi, cabai dll. Intinya petani yang menanam tanaman, yang usia tanamannya pendek. 2 - 5 bulan.
.
.
 Jenis petani ini memiliki kelebihan dari sisi cash flow yg cepat. Ada kelemahannya, yaitu effort yg dikeluarkan terlalu besar dan berulang. Habis waktu, modal dan tenaga. Apalagi saat saat sekarang, menjadi petani bukan profesi dambaan. Lah yg bapak nya petani aja gk pernah bercita-cita anaknya untuk jadi petani. Capek jadi petani. "Le, kamu harus jadi guru, jangan seperti bapak yg cuma petani". Kurang lebih seperti itu. Makanya gk heran, sudah terlalu banyak lahan pertanian yg dijual. jadi petani itu susah.
.
.
Bandingkan dengan petani durian. Petani tersebut menanam bibit, menunggu 5-8 tahun untuk akhirnya durian tersebut panen. Hal yang sama untuk jenis buah lain, kelapa, manggis, mangga, sirsak, kurma dll. Disini mereka harus bersabar beberapa tahun sampai mendapatkan panen. Setelah panen, biasanya akan rutin setiap tahun menghasilkan buah.
.
.
Kelebihan nya, petani di golongan ini butuh effort besar di awal, tapi akan dapat panen terus menerus. Kelemahannya,  butuh pendapatan lain untuk menopang hidupnya. Tentu saja, modalnya juga harus besar.
.
.
Nah disini peluangnya. Masyarakat desa, bisa dibilang minim dari sisi modal. Masyarakat kota, biasanya punya uang di rekening bank. Daripada mengendap tak berguna, ada baiknya dana itu diputar ke desa desa agar menjadi aset produktif, berupa kebun kebun buah di desa. Terjadilah simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan.
.
.
Disini pentingnya kepercayaan. Orang kota akan menyimpan uang nya di desa ketimbang di bank bilamana orang di desa bisa dipercaya. Membangun kepercayaan ini penting. Kepercayaan ini modal utama dalam pergaulan antar manusia.
.
.
Insya Allah, bila kota dan desa sudah kawin, Indonesia sejahtera. Mungkin, gk perlu hutang lagi. Aamiin
#sedekahopini
#menulispositif
#greenEngiNeeRinG
Share:

Jadilah Jamaah Mandiri


Gerakan ini dimulai kira kira sejak 2005 di Masjid Jogokariyan. jumlah biaya dalam setahun dihitung, dibagi 52 pekan, sehingga ditemukan biaya setiap pekan. Lalu, angka itu dibagi lagi dengan kapasitas masjid; ketemu biaya per tempat salat. Jamaah diberitahu bahwa dalam sepekan mereka berinfak dalam jumlah tersebut, maka termasuk jamaah mandiri.
.
.
Jika lebih, dia jamaah pensubsidi. Namun kalau kurang, dia termasuk jamaah disubsidi. Gerakan jamaah mandiri ini sukses menaikkan infak setiap pekan hingga 400 persen di Masjid Jogokariyan.  Ternyata, orang malu jika ibadah sampai disubsidi.
.
.
Misal Setiap bulannya, sebuah Masjid mengeluarkan biaya operasional rutin berupa biaya listrik, tagihan air, pengeluaran di setiap hari Jum'at, pengeluaran di pengajian mingguan dan biaya biaya lain. Biaya biaya tersebut bisa dipenuhi oleh infaq dan sedekah dari para jama'ah masjid.
.
.
Seandainya setiap bulan nya sebuah Masjid  mengeluarkan 5 juta, lalu jumlah jamaah yang hadir di setiap Jum'at nya berjumlah 200 orang, lalu dibagi lagi per bulan ada 4 pekan, maka pengeluaran yang dihabiskan oleh masjid untuk tiap jamaah sekitar Rp 7.000 per orang per pekan.
.
.
Ini artinya, bila tiap jamaah ber- infaq Jumat sejumlah Rp 10.000, artinya Jamaah tersebut bisa dikatakan *Jamaah Mandiri* .
.
Bila jamaah berinfaq kurang dari Rp 7.000, artinya Jamaah tersebut disebut *Jamaah yang disubsidi* oleh orang lain. .
Bila dilihat lebih dalam lagi, angka 7000 per pekan itu sama aja dengan 1000 rupiah per hari. Angka ini insya Allah bisa disisihkan oleh sebagian jamaah. .
.
.
Disini disadarkan masyarakat, untuk diajak sama sama berinfaq. Berapapun nilainya. Bisa seribu, dua ribu, tapi infaq bareng bareng untuk dipakai bareng bareng.
.
.
Metode yg dipakai Jogokariyan itu seperti membuat poster kreatif untuk membangun kesadaran masyarakat. Jadi tidak meminta kerumah rumah. Masyarakat diharapkan tumbuh kesadaran nya untuk mandiri dgn ikhlas dan sadar.
.
Ayoo.. jadilah Jamaah yang Mandiri !!! .
.
#menulispositif
#sedekahopini
Share:

CARA MEMILIKI RUMAH DENGAN SECARA SYARIAH

Tulisan ini berangkat dari pengalaman saya pribadi. tidak ada maksud apa apa. tidak bermaksud pamer. toh saya juga masih belum sepenuhnya memiliki rumah. Tulisan ini sebagai pengingat sekaligus nasihat, khususnya untuk diri saya sendiri. Juga informasi ini mungkin dibutuhkan oleh teman teman yang membutuhkan rumah. Mungkin teman teman bisa menyesuaikan dengan kondisi teman teman masing masing.   Baiklah, kita mulai tulisan ini. 
.
.
Secara umum, beberapa cara orang untuk memiliki rumah diantaranya yaitu;
1. Cash karena ada uang, biar cepat urusan
2. Cicil bank karena ada penghasilan tapi belum ada cash 
3. Ngontrak dulu, nabung sampai terkumpul cash 
4. punya uang tapi sengaja cicil lewat bank, sekian bulan kemudian dilunasin biar BI checking bagus
5. Cicil pembangunan sesuai kondisi keuangan (pondasi dulu, libur, nabung, struktur, libur lagi, nabung, atap dst)
6. dibeliin / dikasih orang tua
7. Cicil ke developer

mungkin banyak lagi yang lain. tapi saya generalkan di 7 kategori itu. Mari kita jabarkan penjelasan. 

1. Cash karena ada uang, biar cepat urusan
Bila punya uang cash, cara ini yang paling  sederhana dan tidak ribet. Langsung cash. langsung bayar dan urusan selesai. tentu saja surat surat yang dibutuhkan harus diurus. Namun dengan harga rumah yang umumnya relatif tinggi, hampir kebanyakan orang akan kesulitan membelinya. Sebagai contoh saja, sebuah rumah di tengah kecamatan Antapani Bandung, sudah dihargai di kisaran minimal 700 juta. Harga ini sudah umum di sekitar Antapani. Temen temen bisa membandingkan dengan kondisi keuangan masing masing. Bila masih bergantung gaji 3 - 5 jutaan per bulan, rasa rasanya akan sulit untuk bisa membeli rumah secara cash. 

2. Cicil bank karena ada penghasilan tapi belum ada cash 
Cara ini yang umum dipakai oleh kebanyakan orang. Biasanya cara ini dipakai oleh karyawan karyawan. 
Share:

REJUVENASI PETANI - UPAYA MENUMBUHKAN PETANI BARU


Tulisan oleh kang Rendi Syahputra

Ramai berseliweran di linimasa, Indonesia sedang krisis petani muda. Populasi petani yang berusia dibawah 35 tahun hanya 4% dari total seluruh petani. Ini ancaman bagi sektor pertanian yang menyumbang 13% PDB. Jika PDB tahun 2017 sejumlah 13.588T, berarti sektor ini menyumbang 1.766T.

Pertanyaannya, jika petani muda berada di kisaran 4%, lalu siapa yang melanjutkan sektor ini kedepannya?

Penurunan kontribusi sektor pertanian pada PDB ini sebenarnya sudah terjadi lama. Tahun 1991, pertanian menyumbang 21% terhadap PDB. Walau PDB waktu itu hanya 118 miliar USD, berbeda tentu hari ini yang 1T USD lebih.

Tetapi bagaimanapun, dari 1991 ke 2017, kontribusi sektor ini falling down ... decrease... dari 21% ke 13%. Ini berarti tergerus 8%. PARAH.

Kenapa? Ya karena sudah jelas, tidak ada regeneraai petani muda.

Di sisi berita baik, Saya senang... linimasa meributkan hal yang substansial, diangkat CNN Indonesia, dibahas para penggerak pertanian, dan jadi tulisan dimana-mana. Dari senang bergosip murahan, kita sedang bertransformasi jadi bangsa ber-NARASI. Saya bahagia.

Namun disisi lain, mari renungkan hal ini mendalam. Sektor pertanian, perkebunan, perikanan... adalah sektor yang menopang pangan. Dalam Social Progress Index, pangan ini terletak didasar kebutuhan manusia : basic needs.

Jadi... jika kita sebagai entitas bangsa TIDAK MAMPU menopang nasib PERUT anak negeri, maka ketahanan nasional bangsa ini sedang terancam.

Tulisan Saya kali ini adalah usaha untuk menjawab permasalahan regenerasi ini. Semoga bermanfaat. Tidak ada menyalahkan siapapun. Tidak berniat memojokkan siapapun. Tulisan netral. Gak ada hestek anu anu... hehehehe...

*****

"Anak muda... ayo kembali ke sawah. Berkorbanlah, bangun desa, jangan memikirkan karir di kantoran!!!"

Menurut Saya ini ajakan orang tua yang gak ngerti masalah utama. Ajakan ini jelas bukan dari usia millenial. Kalimat diatas menurut Saya tidak berempati sama sekali.

Masalahnya bukan anak muda gak punya hati sama pertanian. Masalahnya ada pada bisnis model yang BERANTAKAN.

Anda bisa bayangkan, pertanian yang reguler panen hanya 2x setahun. Coba Anda hitung biaya benih, pupuk, perawatan, selama 1x masa panen per 1 hektar lahan, lalu bandingkan dengan revenue hasil panen. Dapatkan selisih positifnya, lalu bagi 6 bulan... apakah cukup untuk hidup? Apakah merangsang anak muda kita untuk bertani?

Sekarang ini, petani yang punya sawah aja MELAKNAT anaknya kalo jadi petani lagi.

"Le... jangan jadi petani kayak bapak.. sengsara... awas lho le... jadi orang besar di kota... jangan kayak bapak...."

Dan terbukti kok, para petani ini desperate. Mereka menjual hektaran sawahnya. Ini bukti putus asa. Kalo berharap anaknya bertani, kenapa dijual?

Petani existing saja KAPOK bertani. Lebih memilih menjual lahan sawah. Lahan sawah produktif telah berubah fungsi 110 ribu hektar per tahun... dan kita kehilangan 506 ribu ton beras per tahun. Ini parah blasssss.

Maka, solusinya sederhana, PETANI harus mendapatkan IMBAL HASIL yang sepadan, besar, menggiurkan.

Jika jadi petani bisa 15 juta per bulan, gak usah disuruh pulang pak, kami anak muda bangsa ini akan garap jutaan hektar lahan negeri ini. Mikirnya kesini seharusnya. Jangan disuruh BERKORBAN hidup sengsara di lahan pertanian. Semoga sepakat.

Oke ya... kita kunci solusi dasarnya : BIKIN PETANI SEJAHTERA.

*****

Sekarang langkah teknisnya, Saya sampaikan beberapa, takut kepanjangan, dan supaya Saya ada bahan narasi juga di Offline.. hehehehe... jangan semuanya dibuka... #peace

Dari 20 poin yang Saya siapkan, kita buka 5 poin dulu ya....

1. Mengevaluasi alur proses bisnis sektor pertanian dari hulu ke hilir, dari A to Z.

Proses bertani ini kan proses panjang yang saling terikat. Misalnya nanam padi, ini kan bermula dari benihnya, lalu pupuknya, lahannya. Diujung proses berarti si benih. Proses nanam lalu panen.

Setelah panen, gabah dibawa ke penggilingan, jadi beras, masuk rantai distribusi, hingga ke end user.

Agar petani bisa sejahtera, disinilah kita harus mengevaluasi rantai proses bisnisnya. Disebelah mana kita bisa melakukan OPERASI agar petani bisa sejahtera.

Mensejahterakan petani ini kan sederhana : penerimaan hasil panen harus lebih besar dari biaya bertani dalam 1x masa tanam. Maka cobalah dioperasi kebelakang, mana-mana biaya yang memberatkan petani.

Cek supply benihnya...
Cek supply pupuknya...
Cek hal lainnya...

Kalo dikedua hal utama itu saja, petani sudah DIPERAS gak karuan, gimana mau sejahtera? Kita harus berani mengobrak-abrik bisnis modal pertanian ini. Gak akan bisa tumbuh kalo petani sebagai pondasi utama sektor ini, dihajar habis-habisan dalam pembelian benih dan pupuk.

Sama seperti peternak ayam, DOC atau benih ayam pitik nya darimana? Siapa yang menentukan harganya? Pro anak bangsa atau nggak?

Begitu negeri ini tidak bisa mengendalikan DOC yang merupakan benih ayam broiler, ya harga bisa kemana-mana. Jika kita evaluasi dari awal, mungkin malah negeri ini akan insyaf ke ayam lokal. Beres.

2. Merancang ulang porsi benefit dalam setiap rantai proses.

Melanjutkan dari nomor 1, di nomor 2 ini akan Saya jabarkan mendalam.

Begini...

Jika harga beras per kg sampai di tangan kita itu di harga Rp 15.000,00.

Coba kita belah di 15.000 per kg itu, petani dapat berapa. Ininsekedar ilustrasi, angkanya nebak.... saya juga sedang meraba...

Dari toko ritel beli ke pasar induk grosir 14.500 per kg. Berarti si toko ritel dapat 500.

Dari grosiran beli ke distributor, 13.900 per kg, berarti si grosiran dapat 600.

Dari distributor ke perusahaan penggilingan, beli 12.000. Berarti distributor dapat 1.900

Dari penggilingan ke pengepul gabah, beli 9.000, berarti penggilingan dapat 3.000.

Dari pengepul gabah ke PETANI, beli 7.000,00. Berarti pengepul dapat 2.000.

Nah.. kuncinya kan di Petani beli benih.. beli pupuk.. pengairan.. perawatan.. ini berapa?

Untuk menghasilkan 7.000 per kg, berapa biaya per kg? kalo ternyata 6.900 biayanya? Petani dapat 100 per kg... hehehe... ya amsyiong...

Ini yang menurut Saya perlu ditantang...

1x masa panen itu bisa 6 bulan.. ada yang bahkan tadah hujan.. hanya bisa 1x setahun.

Petani ini kerjanya non stop berhari-hari, pergi pagi.. pulang siang. Namun mengapa petani yang paling dramatis benefitnya?

Yang besar malah PEMILIK MODAL yang punya stok uang untuk membeli, atau malah food processing yang memiliki mesin olah, mesin pengeringan.

Menurut Saya disini letak problemnya : GAK FAIR disisi benefit... antara kerja dan porsi hasil. Mesti diatur deh kayaknya. Yang kontribusinya kecil dan relatif ringan baik tenaga dan modal, mohon ambil marginnya jangan gede-gede. Geser ke petani. #kalobisa

Renovasi bisnis model ini bisa lebih mudah. Kita bisa potong rantai distribusi yang terlalu panjang. Atau bahkan membangun alur distribusi langsung dari restoran ke setiap pabrik pengolahan. Makin pendek, makin besar margin petani.

3. Membangun usaha bersama pada sektor pengolahan.

Nah, nyambung dari nomor 2, Saya ingin menjelaskan strategi sederhananya, agar lebih cepat kita sejahterakan petani.

Konsep bisnis di sektor pertanian ini sederhana. Petani itu penyedia bahan baku, sedangkan yang mengolah dan mengemas hasil panen menjadi bahan pangan siap konsumsi adalah INDUSTRI PENGOLAHAN.

Mari belajar dari koperasi FONTERA di New Zealand. Ada 4.895 peternak sapi yang patungan membangun industri pengolahan susu. Sehari mampu mengolah 15 juta liter susu. Hasilnya di ekspor ke beberapa negara.

Peternak sapi yang menghasilkan susu sapi mencapai kesejahteraan maksimal, mengapa? Karena pasokan bahan baku susu yang mereka hasilkan DIBELI SENDIRI oleh INDUSTRI PENGOLAHAN yang mereka miliki BERSAMA.

Kalo kita peternak, dan unit pengolahan susunya adalah saham kita bareng-bareng, maka kita akan sama-sama mendesain HARGA BELI bahan baku yang maksimal. Yang penting industri pengolahannya gak rugi. Yang penting FONTERA nya gak bangkrut. Karena memang fontera adalah bisnis patungan para peternak. Mau untung gede juga akan kembali ke masing-masing peternak.

Ini berbeda jika unit pengolahan susu tersebut adalah milik KORPORASI SWASTA. Karena pendekatannya murni bisnis, wajar jika sebuah korporasi mencari asupan bahan baku paling murah. Wajar kan? Karena ada kejaran pengembalian investasi dan lain-lain.

Jika industri pengolahan dimiliki bersama-sama oleh peternak, maka forum komunikasi peternak akan mendesain harga beli yang wajar dan win win. Konsep koperasi sebenarnya adalah konsep paling tepat pada industri pengolahan.

LSM pemberdayaan BRAC saja mensolusikan kemiskinan petani dari industri pengolahan. Hari ini mereka punya pabrik pengolahan makanan yang mensejahterakan petani. Uang modal yang dari filantropi dijadikan pabrik pengolahan. Dan unit pengolaham beli tinggi hasil panen.

Ini yang Saya dorong kepada rekan-rekan muda di pedesanaan. Obrolan kepada anak muda DKM mesjid pedesaan adalah bagaimana membangun kepemilikan bersama pada unit pengolahan hasil panen. Gak bisa 1 petani punya 1 penggilingan. Kalo 1000 petani jadi mungkin.

Yuk ajak para petani sama-sama bikin unit pengolahan panen. Punya pengeringan gabah sama-sama, punya penggilingan sama-sama. Disinilah peran dana pemberdayaan, infaq produktif, wakaf produktif, dana sedekah, untuk dibelanjakan menjadi unit pengolahan hasil panen yang produktif.

Jika lahannya wakaf, mesinnya wakaf, apa tega mau ambil untung besar. Sudah jelas akan memenangkan petani dengan harga beli yang tinggi.

Unit pengolahan yang benar juga akan melahirkan produk output yang memiliki daya saing. Kemasannya bagus, isinya berkualitas, pasti harga jualnya tinggi. Apalagi jika koperasi petani bukan hanya memiliki unit pengolahan, namun hingga unit distribusi ritel sampai end user. kesejahteraan petani lebih dashyat lagi.

Jadi, kuncinya 2 : buat industri pengolahan hasil panen yang melahirkan produk bernilai tambah tinggi, dan yang kedua, bangun konsep kepemilikan bersama pada bisnis pengolahan tersebut : koperasi... atau usaha patungan ratusan petani... itu baru keren.

Begitu harga beli hasil panen tinggi, dan biaya pertanian rendah, insyaAllah petani muda akan pulang ke Sawah. Kalo gak ada sawahnya, pasti akan diusahakan ada, karena hasil panen menggiurkan.

4. Menghadirkan sentuhan teknologi pada sektor pertanian.

Diatas telah terbahas tentang pendekatan peningkatan profit. Revenue panen diperbesar. Lalu biaya ditekan.

Di ranah peningkatan revenue, kita harus membantu petani berfikir untuk hasil panen yang LEBIH BANYAK, LEBIH CEPAT dan LEBIH BERKUALITAS.

Pada bab lebih banyak, disinilah diperlukan pendekatan budidaya benih super. 1 pohon menghasilkan banyak buah, 1 batang menghasilkan lebih banyak bulir. 1 hektar sawah menghasilkan lebih banyak panen. Di titik ini, lagi-lagi TEKNOLOGI pertanian harus hadir.

Pada bab lebih cepat, pola panen juga kita harus fikirkan. Manusia makan tiap hari, kita gak bisa paksa petani rela panen hanya 2x setahun. Jika bisa 4x kenapa tidak? Kalo perlu 6x. 2 bulan masa panen. Rekayasa genetika tentu harus menjawab hal ini.

Pada bab lebih berkualitas juga demikian. Pola perlidungan hama, pola tanam, pola perawatan, jarak antar tanaman, mempengaruhi hasil panen. Semua ini terkait dengan teknologi.

Jika petani mampu menghasilkan lebih banyak, lebih cepat dan lebih berkualitas. Revenue pasti naik.

Sekarang pada pendekatan biaya.

Pola biaya pertanian harus dioperasi besar-besaran. Ada sawah yang gak pake bendungan irigasi, akhirnya pakai pompa air tanah, ada biaya bahan bakar disana. Padahal ada teknologi pompa tenaga matahari. Bisa efisien.

Cara bertani juga berpengaruh, jika pertanian manual membutuhkan misalnya 2 petani per 1 hektar lahan, teknologi mesin pertanian bisa membuat 2 petani pegang 50 hektar lahan. Ini biaya langsung drop, revenue tinggi dan terbagi hanya untuk 2 petani.

Pengairan memakai selang infus tepat tanaman...
Penyemprotan memakai drone...
Penggemburan memakai mesin traktor...
Panen memakai mesin...
Dan seterusnya...

Maka gak bisa dihindari, jika ingin menyelamatkan dunia pertanian, kita harus mengawinkan dunia pertanian ini dengan teknologi. Per 1000 hektar lahan sawah, harus ada 1 litbang teknologi. Disanalah 100 Doktor berbagai bidang keilmuwan turun tangan memikirkan pendekatan teknologi secara lokal. Misal lho ya....

5. MENDUKUNG pemerintah untuk BERANI menghadirkan ekosistem positif bagi petani.

Sektor alur bisnis pertanian ini adalah perikatan berbagai entitas bisnis yang saling terikat dan punya kepentingan. Ketika tulisan Saya mengajak untuk memperpendek alur distribusi, pemain tengah pasti geram. Ketika saya berbicara tentang koperasi pengolahan makanan, pengolahan makanan swasta pasti gak enak bacanya.

Saya sangka baik, gak ada swasta nasional yang ingin petani sengsara. Lagian kalo semua petani pundung, unit pengolahan juga gak akan ada pasokan bahan baku. Pada akhirnya saling membutuhkan.

Pada bagian ini, Saya ingin menyadarkan bahwa akhirnya... kita semua MEMBUTUHKAN pemerintah untuk HADIR menengahi dan membangun regulasi alur bisnis yang adil dan fair. Gak perlu ada statement "berpihak pada petani wong cilik"... fair aja bapak ibu. Korporasi swasta bahagia, distributor bahagia dan petani bahagia sejahtera. Itu saja...

Yang Saya raba dan rasakan, disinilah kita harus MENDUKUNG. Kenapa saya memilih kata "mendukung", karena membangun ekosistem positif ini butuh keberanian.

Ada 250 juta jiwa anak bangsa. Anggap saja ada 100 juta kepala keluarga yang mengkonsumsi bahan pangan per bulan. Misalkan 100 juta KK ini masing-masing belanja pangan 2 juta per bulan, ini putaran 200T per bulan. Jika dikonversi per tahun, ketemu angka 2.400T per tahun.

Bahkan seluruh proses pangan dari hulu ke hilir konon berkontribusi pada 55% PDB. Didalamnya ada pertanian, transportasi, dan lain-lain... itu berarti sekitar 7.000T.

Jadi... merekonstruksi sektor pertanian menuju kesejahteraan petani.. menuju kembalinya anak muda daerah... menuju swasembada pangan... hal ini adalah urusan uang ribuan triliun. Beranikah pemerintah berbuat? Disinilah kita sebagai rakyat harus mendukung pemerintah melakukan renovasi besar-besaran pada sektor pertanian. Semoga.

Alhamdulillah, di fan page Pak Jokowi Saya baca berita baik, puluhan bendungan sedang dikerjakan, berarti ini masa depan lahan baru untuk pertanian. Dana desa pun tersalurkan 1T. Anak muda desa yang kreatif ada yang berhasil membangun desa wisata. Bahkan lahir BUMDES. Badan Usaha Milik Desa. Ini masa depan baik. InsyaAllah kita dukung terus.

*****

MasyaAllah... panjang ya... terasa jempol saya sedikit keram... hehehehe...

Semoga Anda membaca sampai selesai. Tiada harapan apapun kecuali ada perbaikan pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan. Masalahnya sama kok : bisnis modelnya USANG.

Saya yakin, kita semua harus yakin, jika kita berusaha bersama, mulai dari rakyat bawah, pengusaha swasta, tokoh masyarakat, pemerintah, mau serius bangun bisnis model terbaik untuk sektor Agri, insyaallah sektor agri kita melesat hebat.

Jika sahabat sepakat dengan ide yang disampaikan, mohon bantuannya untuk share dan membagikan ini ke jejaringnya. Silakan share ke grup WA-tele-milis, sertakan sumber Rendy Saputra. Gak usah pake Ketua umum Serikat Saudagar Nusantara, nanti banyak pertanyaan. Kadang orang gak lihat isi, malah lihat label. Share aja dengan cara terbaik, yang penting narasinya meluas. Diterima. Dan mendorong lahirnya ekosistem positif pertanian.

Bagi caleg, organ pemerintah, yang mau copaste konsep ini juga boleh. Gak usah minta ijin Bapak Ibu. Diamplifikasi saja Saya sudah bahagia. Yang penting petani kita sejahtera.

Semoga tidak ada lagi kesedihan paradoks terjadi... negeri agraris.. lahan subur dimana-mana.. tetapi sang petani want-wanti keturunannya agar tidak jadi petani.

Lahan-lahan sawah terjual menjadi lahan properti, perumahan, tanda putus asanya pemilik lahan. Di tulisan yang lain, Saya akam kampanyekan tempat tinggal bertingkat seperti apartemen.. hi-rise building... bukan landed. Itu solusi terbaik tata kelola masyarakat.

110 rb lahan sawah berubah fungsi setiap tahun. 500 ribu ton lenyap dari pasar. Jika supply dalam negeri terganggu, maka ahlan wa sahlan beras impor.. gula impor.. garam impor.. semoga gak terjadi oksigen impor.. ya Salam... salimna...

Maaf, ini nulisnya natural saja. Gak mikir titik koma sama EYD. Saya sedang nenumpahkan kesedihan sebagai anak bangsa. Tugas Saya mungkin tidak bertani di sawah, tapi mendorong lahirnya 5 juta petani muda yang kembali ke sawah.

Suatu hari nanti... Bertani adalah sesuatu yang keren.. berpenghasilan tinggi... menjadi rebutan...

Suatu hari nanti... Kita akan penuhi kebutuhan pangan bangsa sendiri.. dan pengusaha nasional beserta pemerintah... secara mandiri mengelola proses bisnis dari hulu ke hilir...

Suatu hari nanti... kita akan ekspor hasil panen kita ke luar negeri. Kita akan menjadi eksportir makanan olahan terbaik dunia.

Suatu hari nanti... tidak ada anak muda yang perlu terinjak-injak mencari pekerjaan. Tidak perlu ada petani yang menjual sawahnya. Tidak perlu ada petani yang menangisi hasil panen yang tidak ada harganya.

Suatu hari nanti...
Suatu hari nanti...
Suatu hari nanti...

Semoga Allah meridhoi..  mengijinkan.. memberkahi.. melindungi...

Anak Bangsa,
Rendy Saputra
Log On KopdarSaudagar[dot]com
Share:

Yang akan terlupa dan dilupakan



Jumat kemarin 4 siswa SMK yg PKL yang kerja praktek (PKL) di kantor kami izin pamit. Mereka pamit setelah 4 bulan menyelesaikan tugas PKL dari sekolahnya. Bagi kami, rasanya baru kemarin mereka datang dan sudah harus pamit pergi untuk kembali ke kehidupan mereka masing masing.
.
.
Jumat kemarin juga, 2 mahasiswa Kerja Praktek (KP) dari univ Andalas juga pamit pulang. Mereka sudah menyelesaikan 1 bulan KP nya di kantor kami. Bagi kami, rasanya baru kemarin mereka datang dan sudah harus pamit pergi untuk kembali ke kehidupan mereka masing masing.
.
.
Sekitar 4- 6 bulan lalu, salah satu atasan senior kami di kantor, alm. Pak Muslim pamit untuk selama lamanya 😭. Beliau bergabung dengan kami di sekitar tahun 2017 - 2018. Beliau dengan segala jasa dan kebaikannya harus  pamit undur diri dari semua kesibukan kantornya. Bagi kami, rasanya baru kemarin beliau datang dan harus pamit pergi untuk selamanya. 😭
.
.
Rasa rasanya juga, saya baru kemarin bergabung dengan keluarga besar UP2W III. Bergabung dan berdinamika bersama, berkembang bersama, belajar bersama. Kenyataannya sudah 1 tahun bekerja dan belajar bersama.  Banyak ilmu baru. Insight baru. Pengalaman baru. Semua akan terekam sangat baik didalam buku catatan hidup saya. Mungkin mingguan, bulanan atau tahunan lagi kita akan bekerja sama. Atau mungkin juga akan ada takdir lain.
.
.
Mungkin setelah kepergian kita nanti, semua akan kembali normal. Masing masing temen temen, keluarga, istri, anak kita akan disibukan dengan urusannya masing masing dan mulai melupakan kita.
.
.
Seperti sebuah Project, ada start date. Ada juga finish date. Mudah mudahan di finish date kita, orang akan ingat kita denga kebaikan kita dan tidak melupakan kita begitu saja. Mudah mudahan kita akan diingat sebagai orang baik yang pernah mampir di kehidupan mereka.
.
.
#sedekahopini
#menulispositif
#zikrulmaut
Share:

Food, Energy, Water = F E W 2


Salah satu pekerjaan yang kemungkinan besar bisa dilakukan oleh setiap orang adalah bertani. Bertani apa aja. Tinggal cari bibit/benih nya langsung ditanam insya Allah pasti tumbuh. Semua orang pasti bisa melakukan. Hanya saja untuk mendapatkan hasilnya butuh usaha lebih.
.
.
Beda halnya dengan profesi lain, misalnya tukang las. Butuh latihan untuk bisa ngelas. Mungkin perlu waktu seminggu untuk bisa mahir ngelas. Begitu juga untuk pekerjaan bubut ataupun montir mobil. Perlu latihan tambahan. Namun beda dengan bertani, setiap orang pasti bisa menanam.
.
.
Namun sayang aja, pekerjaan bertani yang mudah itu, sekarang tidak diimbangi oleh hasil yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan kita khususnya kalo kita bicara sebagai Indonesia.
.
.
Tahun 2018 sendiri, kita impor beras hampir 2.2 juta ton beras. Angka ini naik beberapa kali lipat sejak tahun 2015. Bayangkan, 2.2 juta ton beras itu setara dengan 1 miliar dollar Amerika atau setara sekitar 15 triliun rupiah. Data ini bisa dicek di link ini https://bisnis.tempo.co/read/1177254/impor-beras-naik-25-kali-lipat-jokowi-justru-bilang-turun/full?view=ok.
.
.
Begitu juga dengan komoditas pertanian lainnya. Masih banyak yang harus diimpor dari luar negeri. Positif thinking nya mungkin karena hasil panen pertanian dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Atau mungkin ada motif lain dari impor yang jor joran itu. Saya gk faham.
.
.
Kita punya potensi tanah pertanian yang masih cukup luas. Kalo bener hasil pertanian kita gk cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pasti ada yang harus dibenahi dari pertanian kita.
.
.
Salah satu penyebab yang banyak diungkapkan para ahli yaitu menurunnya produktivitas lahan pertanian kita. Dulu kita sempat mendengar Indonesia swasembada beras di era pak Soeharto. Namun sekarang tidak lagi. Bisa jadi karena penduduk yang semakin banyak, bisa jadi lahan kita tidak produktif.
.
.
Di dalam Al Qur'an, Allah SWT menyebut tanah merupakan hal yang sangat penting. Di surat Al A'raf, begini ayatnya : "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 58).
.
.
Jadi tanah yang baik akan membuat tanaman tumbuh dengan baik dan subur. Bila tumbuhnya sehat, kemungkinan buahnya/panennya akan banyak. Berlaku juga hal sebaliknya.
.
.
Penggunaan pupuk kimia secara luas,  dalam beberapa penelitian disebut sebut sebagai salah satu penyebab rusaknya tanah pertanian kita. Di awal awal penggunaan pupuk kimia memang membuat hasil pertanian meningkat. Namun dalam jangka panjang, ternyata malah merusak tanah.
.
.
Saya sudah mencoba "mengamati" penggunaan pupuk kimia dan pupuk organik pada tabulampot pohon tin saya. Pohon tin yang saya berikan pupuk kimia, awal awalnya cepat berbuah. Tapi setelah beberapa bulan, pertumbuhan nya mandek.
.
.







Foto diatas adalah kondisi sekarang dimana pohon tin sudah diberikan pupuk organik berupa sisa makanan (sampah rumah tangga). Hasilnya gimana? Di foto itu terlihat beberapa bakal buah tin sudah mulai kelihatan. Daun tin nya juga terlihat lebih segar. Disini saya dapat dua keuntungan. Sampah rumah tangga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dan pohon tin lebih banyak buahnya.
.
.
Melalui tulisan panjang lebar ini, saya coba mengungkapkan hasil eksperimen pertanian. Masih banyak peluang yang bisa kita kembangkan untuk meningkatkan hasil pertanian kita. Nantinya bisa mendukung pangan kita. Apalagi Food (makanan) merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi manusia.
.
.
Dalam skala besar, kita bisa mendukung pangan untuk Indonesia. Mudah mudahan bisa konsisten. Memulai dari hal kecil, mulai dari diri sendir dan mulai dari sekarang.

#menulispositif
Share:

Prinsip di Bulan Desember

Prinsip, Bahasa lebih sederhananya disebut aturan, hukum, kepercayaan yang dipegang teguh oleh sekelompok orang, ilmuwan, penduduk ataupun bangsa. 

Contoh sederhana begini. Persegi, mempunyai prinsip, atau aturan yaitu memiliki 4 sudut dengan sudut 90 derajat dan memiliki Panjang sisi yang sama. Jumlah sudutnya tidak bisa diganti menjadi 5 karena ditoleransi jumlahnya. Ketika jumlah sudutnya ditambah menjadi 5, Namanya bukan lagi persegi tetapi polygon. Pun demikian bila Panjang antar sisinya tidak sama Panjang, Namanya bukan lagi persegi, bisa jadi persegi Panjang. Ini yang dimaksud prinsip, aturan, hukum. Tidak boleh diganti ganti. Ketika diganti, bukan lagi persegi, tetapi bentuk lain 

Contoh simpel kedua. Roda, disebut roda karena bentuknya yang bulat dan bisa menggelinding. Roda dipakai pada kendaraan roda dua, roda empat ataupun kendaraan lain. Namanya bukan lagi roda apabila bentuknya diubah menjadi persegi Panjang. Fungsinya sudah berubah. Gak bisa lagi gelinding. Ketika tidak bisa menggelinding, sudah pasti bukan roda. 

Ini maksudnya prinsip. Pun juga dengan agama. Agama itu sebuah prinsip, kepercayaan yang dianut oleh pemeluknya. Prinsip agama memiliki aturan masing masing. Kita tau di dunia ini, diakui beberapa “agama” dengan kepercayaan dan prinsip masing masing. Nama agama nya berbeda beda karena memang memiliki prinsip yang berbeda beda pada beberapa hal. Ketika prinsip agama itu diubah ubah, maka agama tersebut sudah bukan lagi agama sesuai awalnya. 
Orang Kristen memiliki prinsip kalau tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Tuhan nya, disebut sebagai hari Natal. Mereka percaya kalau Tuhan mereka dilahirkan pada tanggal 25 Desember.  Maka, mereka merayakan hari tersebut dengan cara nya masing masing. 

Orang islam juga memiliki prinsip, prinsip yang tidak bisa diubah, ditambah atau dilanggar. Prinsip orang islam adalah kalau tanggal 25 Desember itu bukan lah hari suci. Bukan hari kelahiran Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah dilahirkan. Kapan dan dimana. Karena memang Tuhan itu lah yang menciptakan, bukan dilahirkan. Ketika orang islam “dipaksa” mengakui tanggal 25 Desember itu sebagai hari kelahiran Tuhan, maka otomatis prinsipnya sudah berubah. Agama nya bukan lagi murni islam. Prinsip islamnya sudah berubah. 

Wajar sekali ustadz, ulama, pemuka islam melarang orang islam untuk mengatakan selamat natal. Karena kalimat ini memiliki efek yang besar. Keislamannya pemeluk islam yang mengatakan selamat natal bisa menjadi batal. Karena mereka secara langsung mengatakan ada Ilah lain selain Allah

Disini kita harus sadari dari awal. Masing masing orang memiliki kepercayaan dan prinsip yang dipegang teguh dan gak boleh diubah ubah. Prinsip tetap prinsip. Prinsip tidak boleh diubah hanya karena kata kata toleransi. Toleransi harusnya ada pada hal hal yang bukan prinsip dan kepercayaan. 

Mendekati Desember, kata kata toleransi akan semakin banyak terdengar. Hal ini karena ada 1 hari yang dipercaya oleh teman teman, guru, dosen kita sebagai hari besar mereka. 

Bagi teman teman, bapak bapak, ibu ibu yang memiliki kepercayaan berbeda, silahkan saja. Tulisan ini bukan berarti memaksa kalian masuk kepada Islam. Karena di Islam tidak ada pemaksaan kepada orang lain untuk masuk kepada islam. 

Mari kita saling bertoleransi pada hal hal yang bukan prinsip. Kepada rekan rekan, saudara saudara, ibu bapak yang menjalankan kepercayaannya di ujung Desember, selamat merayakan sesuai kepercayaan.

Penjelasan yang saya tulis ini memiliki dasar dan prinsip. Keterangannya ada di video ustadz Haikal Hasan berikut ini. 



ada juga penjelasan bunda Irena Handono tentang apa yang terjadi pada 25 Desember .




Share:

Cara kapitalisme menguasai dunia

Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).
Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.
Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?
Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.
Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.
Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?
Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.
Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).
Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?
Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.
Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini? Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?
Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.
Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).
Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.
Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.
Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.
Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.
Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.
Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?
Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.
Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya. 
Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.
Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?
Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.
Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?
Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?
Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya.
Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.
Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.
Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.
Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?
Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.
Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia. [Dwi Condro Triyono, Ph.D]
Share:

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()
  • ()
Tampilkan selengkapnya