Bila anda Jawa, maka
anda tidak bisa menjadi muslim 100%. Bila anda muslim 100%, anda tidak akan
bisa jadi jawa. Benarkah demikian? dan apakah Islam Nusantara itu ada?
catatan dari Video ceramah Ustadz Salim A. Fillah "Diponegoro dan Dakwah Islam di Nusantara "
source :Youtube
Pangeran Diponegoro memiliki nama
asli Raden Mas Mustahar, dilahirkan pada 11 November 1785. Ibunya bernama Raden
Ayu Mangkorowati, yang merupakan istri dari Sultan Hamengkubuwono III. Bila
dilihat silsilah pangeran Diponegoro, beliau masih memiliki garis keturunan
kepada Rasulullah dari garis ayahnya. Nenek buyut Sultan Diponegoro,Ratu Ageng
Tegalrejo, istri dari Sultan Hamengkubuwono I, merupakan cucu sultan Bima
dimana beberapa keluarga dari garis ibu adalah ahlul bait Rasulullah SAW.
Pangeran Diponegoro
Andaikan Pangeran Diponegoro mau,
beliau sebenarnya pewaris Kesultanan Yogyakarta dan berhak menyandang gelar
Sultan Hamengkubuwono IV sebagai Sultan Yogya. Namun, Belanda yang sewaktu itu
sudah ada di Yogyakarta, terkesan untuk melakukan penjajahan dan memaksakan
keinginannya kepada Kesultanan Yogyakarta, maka kita tahu selanjutnya
terjadilah Perang Diponegoro.
Pangeran Diponegoro memimpin
langsung perang melawan Belanda pada tahun 1825 – 1830 M yang dikatakan sebagai
Jihad Agung. Perang melawan Belanda ini sendiri didukung oleh mayoritas ulama,
Santri dan rakyat Yogyakarta. Perang selama 5 tahun ini memakan korban sekitar
250.000 orang meninggal dunia. Pada tahun 1830 M, Pangeran Diponegoro berhasil
dikalahkan Belanda dan ditangkap tepatnya pada tahun 28 Maret 1830. Pangeran
Diponegoro dibuang ke Manado lalu ke Makassar (Beliau meninggal di Makassar).
Kekalahan Pangeran Diponegoro mengakibatkan setidaknya 2 kejadian besar yang
berdampak hingga sekarang.
Pertama adalah Kemunduran yang sangat besar bagi
kehidupan keislaman di keraton keraton Jawa.
Ada beberapa indikator sebagai tanda kemunduran kehidupan
islam di Keraton keraton Jawa yaitu sbb:
- 1. Pengadilan agama, mahkamah
syariah, yang ada di serambi masjid Gede dihapus sejak kekalahan Pangeran
Diponegoro
- 2. Seluruh Kurikulum islam
yang digunakan untuk mengajari pangeran pangeran di keraton diubah setelah
kekalahan Diponegoro. Pangeran pangeran yang hidup sebelum Diponegoro kalah,
semuanya fasih berbahasa arab. Setelah kekalahan itu, nilai nilai islam di
keraton Yogya mulai ditinggalkan.
- 3. Ulama dan santri tersingkir
dari keraton. Para santri dan Kyai yang berpihak kepada Diponegoro dimusuhi
oleh keraton dan kolonial belanda pasca kekalahan Pangeran Diponegoro. Bahkan,
Semua kerugian perang tersebut dikambinghitamkan kepada kaum santri.
- 4. Belanda memasukkan budaya
barat ke Keraton dan menyingkirkan syariat islam. Sebelum Pangeran Diponegoro
kalah, semua wanita yang ada di keraton memakai jilbab. Ini bisa dibuktikan
pada Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo. Babad Diponegoro merupakan biografi
yang ditulis sendiri oleh Diponegoro saat diasingkan ke Manado sedangkan Babad
Kedung Kebo merupakan kisah yang ditulis oleh laskar diponegoro yang menjadi
bupati Kedung kebo (Purworejo). Bukti
yang ada di babad diponegoro yaitu kisah tentang nenek pangeran diponegoro
yaitu Ratu Ageng tegalrejo saat menjelang wafatnya. Ratu Ageng Tegalrejo wafat
saat beliau sedang meninjau sawah. Tiba tiba di pematang sawah beliau terjatuh.
Ketika diangkat untuk dibawa ke pendopo tegalrejo, meskipun dalam kondisi kesakitan,
beliau masih berupaya untuk memperbaiki kerudungnya yang sedikit terbuka. Dari
sini bisa diambil kesimpulan, nenek buyut pangeran diponegoro berhijab
sempurna. Bukti lain adalah Lukisan lukisan yang ada di buku Babad kedungkebo ini tergambar jelas, Ratu kencono, ibu
Hamengkubowono V memakai kerudung.
Babad Diponegoro
- 4 Pesantren-pesantren yang
mengajari Qur’an, Hadis, Fikih ditutup. Pesantren yang ditinggalkan dan
dibiarkan hidup oleh Belanda adalah pesantren yang hanya mengajarkan wirid
wirid dan ritual ritual tasawuf
Begitulah, pasca kekalahan diponegoro terjadi “kerugian” yang teramat
besar bagi kesultanan Yogyakarta.
Selanjutnya,
poin penting yang diakibatkan oleh kekalahan diponegoro adalah justru syiar
dakwah islam yang semakin meluas. Laskar laskar diponegoro yang setia dan
berhasil lolos dari belanda, menyebar ke seluruh Jawa membuka desa desa baru
dan mengajarkan islam di desa desa yang mereka bangun tersebut. Mereka
mendirikan desa desa baru tersebut dengan azas islam. Tokoh tokoh tersebut
diantaranya :
- 1. Kyai Mojo dan 60 orang
lainnya dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara. Para laskar ini kemudian menikah
penduduk setempat dan mengembangkan islam disana. Daerah tersebut terkenal
sebagai kampung Jaton, Jawa Tondano.
- 2. Kyai Kasan Besari menempati
daerah Tegalsari, di Ponorogo. Untuk mengelabui Belanda, Beliau mendirikan
pesantren dengan sistem pendidikan mengikuti aturan Belanda. Namun kyai Kasan
Besari mengajari anak cucunya untuk tetap memegang teguh agama islam berikut
ajaran Jihad yang ada di Al Qur’an dimana ajaran itu dilarang Belanda. Diantara
anak didik Ponpes Tegalsari pindah ke
Termas dan mendirikan Ponpes Termas, Pacitan. Salah satu Keturunan ponpes
termas yaitu Syeikh Mahmud attarmasi. Beliau adalah adalah imam masjidil haram
yg menggantikan syeikh nawawi Al Bantani sekaligus guru syeikh ahmad khatib al
minangkabawi. Dari Ponpes tegalsari ini juga, anak keturunannya mendirikan
ponpes yang sangat terkenal hingga sekarang yaitu Ponpes Darusalam Gontor. Tokoh
nasional yang belakangan ini terkenal dari keturunan Ponpes Tegalsari, yaitu
ust Bachtiar Nasir, sekertaris MIUMI sekaligus tokoh GNPF MUI
- 3. Laskar diponegoro lainnya
yaitu Sentot Ali Basyah abdul mustofo prawiroderjo, putra bupati madiun, Raden
Ronggo prawirodirjo III (menantu sultan Hamengkubuwono II). Pada tahun 1829,
beliau ditangkap dan dibuang ke Bengkulu. Pasukannya digerakkan/diarahkan ke
arah utara oleh Belanda yaitu ke tanah minang dan dijadikan alat untuk
memerangi pasukan Padri. Seolah olah maksud Belanda ini membenturkan islam
tradisional (jawa) dengan islam radikal keras (padri). Namun,ketika kedua
pasukan ini bertemu di medan tempur, Belanda kecele. Pasukan sentot mengenali
pasukan padri sebagai saudara seiman lalu sentot memimpin pasukan nya bersama
pasukan Padri bahu membahu melawan Belanda. Akhirnya sentot kembali ditangkap lalu
dibuang ke Bengkulu dan menjadi tahanan rumah. Cikal bakal dakwah sentot di
Bengkulu adalahsalah satu keturunannya yaitu Ibu Fatmawati, yang kita kenal
merupakan istri Soekarno.
Satu hal yang
unik adalah kode rahasia diantara para laskar diponegoro. Kode rahasia ini
adalah agar para laskar diponegoro ini saling mengenali meskipun mereka sudah
saling terpisah satu sama lain sehingga ketika suatu saat ada kesempatan untuk
berjihad mereka bisa berkumpul kembali. Kode yang dipakai adalah agar para
laskar ini menanam sawo berjajar didepan rumah mereka masing masing. Tanaman
sawo ini menandakan penghuni rumah tersebut merupakan laskar diponegoro. Kode
ini diajarkan turun temurun kepada keluarga laskar diponegoro
Dari uraian ustadz Salim diatas, kita tahu ternyata ketika awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta sebenarnya asas/prinsip dasar yang dipakai adalah prinsip prinsip islam. Hanya saja, penjajahan telah merubahnya sedemikian rupa hingga apa yang kita saksikan sekarang ini.








0 komentar:
Posting Komentar