Food, Energy, Water = F E W 2


Salah satu pekerjaan yang kemungkinan besar bisa dilakukan oleh setiap orang adalah bertani. Bertani apa aja. Tinggal cari bibit/benih nya langsung ditanam insya Allah pasti tumbuh. Semua orang pasti bisa melakukan. Hanya saja untuk mendapatkan hasilnya butuh usaha lebih.
.
.
Beda halnya dengan profesi lain, misalnya tukang las. Butuh latihan untuk bisa ngelas. Mungkin perlu waktu seminggu untuk bisa mahir ngelas. Begitu juga untuk pekerjaan bubut ataupun montir mobil. Perlu latihan tambahan. Namun beda dengan bertani, setiap orang pasti bisa menanam.
.
.
Namun sayang aja, pekerjaan bertani yang mudah itu, sekarang tidak diimbangi oleh hasil yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan kita khususnya kalo kita bicara sebagai Indonesia.
.
.
Tahun 2018 sendiri, kita impor beras hampir 2.2 juta ton beras. Angka ini naik beberapa kali lipat sejak tahun 2015. Bayangkan, 2.2 juta ton beras itu setara dengan 1 miliar dollar Amerika atau setara sekitar 15 triliun rupiah. Data ini bisa dicek di link ini https://bisnis.tempo.co/read/1177254/impor-beras-naik-25-kali-lipat-jokowi-justru-bilang-turun/full?view=ok.
.
.
Begitu juga dengan komoditas pertanian lainnya. Masih banyak yang harus diimpor dari luar negeri. Positif thinking nya mungkin karena hasil panen pertanian dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Atau mungkin ada motif lain dari impor yang jor joran itu. Saya gk faham.
.
.
Kita punya potensi tanah pertanian yang masih cukup luas. Kalo bener hasil pertanian kita gk cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pasti ada yang harus dibenahi dari pertanian kita.
.
.
Salah satu penyebab yang banyak diungkapkan para ahli yaitu menurunnya produktivitas lahan pertanian kita. Dulu kita sempat mendengar Indonesia swasembada beras di era pak Soeharto. Namun sekarang tidak lagi. Bisa jadi karena penduduk yang semakin banyak, bisa jadi lahan kita tidak produktif.
.
.
Di dalam Al Qur'an, Allah SWT menyebut tanah merupakan hal yang sangat penting. Di surat Al A'raf, begini ayatnya : "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 58).
.
.
Jadi tanah yang baik akan membuat tanaman tumbuh dengan baik dan subur. Bila tumbuhnya sehat, kemungkinan buahnya/panennya akan banyak. Berlaku juga hal sebaliknya.
.
.
Penggunaan pupuk kimia secara luas,  dalam beberapa penelitian disebut sebut sebagai salah satu penyebab rusaknya tanah pertanian kita. Di awal awal penggunaan pupuk kimia memang membuat hasil pertanian meningkat. Namun dalam jangka panjang, ternyata malah merusak tanah.
.
.
Saya sudah mencoba "mengamati" penggunaan pupuk kimia dan pupuk organik pada tabulampot pohon tin saya. Pohon tin yang saya berikan pupuk kimia, awal awalnya cepat berbuah. Tapi setelah beberapa bulan, pertumbuhan nya mandek.
.
.







Foto diatas adalah kondisi sekarang dimana pohon tin sudah diberikan pupuk organik berupa sisa makanan (sampah rumah tangga). Hasilnya gimana? Di foto itu terlihat beberapa bakal buah tin sudah mulai kelihatan. Daun tin nya juga terlihat lebih segar. Disini saya dapat dua keuntungan. Sampah rumah tangga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dan pohon tin lebih banyak buahnya.
.
.
Melalui tulisan panjang lebar ini, saya coba mengungkapkan hasil eksperimen pertanian. Masih banyak peluang yang bisa kita kembangkan untuk meningkatkan hasil pertanian kita. Nantinya bisa mendukung pangan kita. Apalagi Food (makanan) merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi manusia.
.
.
Dalam skala besar, kita bisa mendukung pangan untuk Indonesia. Mudah mudahan bisa konsisten. Memulai dari hal kecil, mulai dari diri sendir dan mulai dari sekarang.

#menulispositif
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()
  • ()
Tampilkan selengkapnya