Yang akan terlupa dan dilupakan



Jumat kemarin 4 siswa SMK yg PKL yang kerja praktek (PKL) di kantor kami izin pamit. Mereka pamit setelah 4 bulan menyelesaikan tugas PKL dari sekolahnya. Bagi kami, rasanya baru kemarin mereka datang dan sudah harus pamit pergi untuk kembali ke kehidupan mereka masing masing.
.
.
Jumat kemarin juga, 2 mahasiswa Kerja Praktek (KP) dari univ Andalas juga pamit pulang. Mereka sudah menyelesaikan 1 bulan KP nya di kantor kami. Bagi kami, rasanya baru kemarin mereka datang dan sudah harus pamit pergi untuk kembali ke kehidupan mereka masing masing.
.
.
Sekitar 4- 6 bulan lalu, salah satu atasan senior kami di kantor, alm. Pak Muslim pamit untuk selama lamanya 😭. Beliau bergabung dengan kami di sekitar tahun 2017 - 2018. Beliau dengan segala jasa dan kebaikannya harus  pamit undur diri dari semua kesibukan kantornya. Bagi kami, rasanya baru kemarin beliau datang dan harus pamit pergi untuk selamanya. 😭
.
.
Rasa rasanya juga, saya baru kemarin bergabung dengan keluarga besar UP2W III. Bergabung dan berdinamika bersama, berkembang bersama, belajar bersama. Kenyataannya sudah 1 tahun bekerja dan belajar bersama.  Banyak ilmu baru. Insight baru. Pengalaman baru. Semua akan terekam sangat baik didalam buku catatan hidup saya. Mungkin mingguan, bulanan atau tahunan lagi kita akan bekerja sama. Atau mungkin juga akan ada takdir lain.
.
.
Mungkin setelah kepergian kita nanti, semua akan kembali normal. Masing masing temen temen, keluarga, istri, anak kita akan disibukan dengan urusannya masing masing dan mulai melupakan kita.
.
.
Seperti sebuah Project, ada start date. Ada juga finish date. Mudah mudahan di finish date kita, orang akan ingat kita denga kebaikan kita dan tidak melupakan kita begitu saja. Mudah mudahan kita akan diingat sebagai orang baik yang pernah mampir di kehidupan mereka.
.
.
#sedekahopini
#menulispositif
#zikrulmaut
Share:

Food, Energy, Water = F E W 2


Salah satu pekerjaan yang kemungkinan besar bisa dilakukan oleh setiap orang adalah bertani. Bertani apa aja. Tinggal cari bibit/benih nya langsung ditanam insya Allah pasti tumbuh. Semua orang pasti bisa melakukan. Hanya saja untuk mendapatkan hasilnya butuh usaha lebih.
.
.
Beda halnya dengan profesi lain, misalnya tukang las. Butuh latihan untuk bisa ngelas. Mungkin perlu waktu seminggu untuk bisa mahir ngelas. Begitu juga untuk pekerjaan bubut ataupun montir mobil. Perlu latihan tambahan. Namun beda dengan bertani, setiap orang pasti bisa menanam.
.
.
Namun sayang aja, pekerjaan bertani yang mudah itu, sekarang tidak diimbangi oleh hasil yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan kita khususnya kalo kita bicara sebagai Indonesia.
.
.
Tahun 2018 sendiri, kita impor beras hampir 2.2 juta ton beras. Angka ini naik beberapa kali lipat sejak tahun 2015. Bayangkan, 2.2 juta ton beras itu setara dengan 1 miliar dollar Amerika atau setara sekitar 15 triliun rupiah. Data ini bisa dicek di link ini https://bisnis.tempo.co/read/1177254/impor-beras-naik-25-kali-lipat-jokowi-justru-bilang-turun/full?view=ok.
.
.
Begitu juga dengan komoditas pertanian lainnya. Masih banyak yang harus diimpor dari luar negeri. Positif thinking nya mungkin karena hasil panen pertanian dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Atau mungkin ada motif lain dari impor yang jor joran itu. Saya gk faham.
.
.
Kita punya potensi tanah pertanian yang masih cukup luas. Kalo bener hasil pertanian kita gk cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pasti ada yang harus dibenahi dari pertanian kita.
.
.
Salah satu penyebab yang banyak diungkapkan para ahli yaitu menurunnya produktivitas lahan pertanian kita. Dulu kita sempat mendengar Indonesia swasembada beras di era pak Soeharto. Namun sekarang tidak lagi. Bisa jadi karena penduduk yang semakin banyak, bisa jadi lahan kita tidak produktif.
.
.
Di dalam Al Qur'an, Allah SWT menyebut tanah merupakan hal yang sangat penting. Di surat Al A'raf, begini ayatnya : "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 58).
.
.
Jadi tanah yang baik akan membuat tanaman tumbuh dengan baik dan subur. Bila tumbuhnya sehat, kemungkinan buahnya/panennya akan banyak. Berlaku juga hal sebaliknya.
.
.
Penggunaan pupuk kimia secara luas,  dalam beberapa penelitian disebut sebut sebagai salah satu penyebab rusaknya tanah pertanian kita. Di awal awal penggunaan pupuk kimia memang membuat hasil pertanian meningkat. Namun dalam jangka panjang, ternyata malah merusak tanah.
.
.
Saya sudah mencoba "mengamati" penggunaan pupuk kimia dan pupuk organik pada tabulampot pohon tin saya. Pohon tin yang saya berikan pupuk kimia, awal awalnya cepat berbuah. Tapi setelah beberapa bulan, pertumbuhan nya mandek.
.
.







Foto diatas adalah kondisi sekarang dimana pohon tin sudah diberikan pupuk organik berupa sisa makanan (sampah rumah tangga). Hasilnya gimana? Di foto itu terlihat beberapa bakal buah tin sudah mulai kelihatan. Daun tin nya juga terlihat lebih segar. Disini saya dapat dua keuntungan. Sampah rumah tangga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dan pohon tin lebih banyak buahnya.
.
.
Melalui tulisan panjang lebar ini, saya coba mengungkapkan hasil eksperimen pertanian. Masih banyak peluang yang bisa kita kembangkan untuk meningkatkan hasil pertanian kita. Nantinya bisa mendukung pangan kita. Apalagi Food (makanan) merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi manusia.
.
.
Dalam skala besar, kita bisa mendukung pangan untuk Indonesia. Mudah mudahan bisa konsisten. Memulai dari hal kecil, mulai dari diri sendir dan mulai dari sekarang.

#menulispositif
Share:

Prinsip di Bulan Desember

Prinsip, Bahasa lebih sederhananya disebut aturan, hukum, kepercayaan yang dipegang teguh oleh sekelompok orang, ilmuwan, penduduk ataupun bangsa. 

Contoh sederhana begini. Persegi, mempunyai prinsip, atau aturan yaitu memiliki 4 sudut dengan sudut 90 derajat dan memiliki Panjang sisi yang sama. Jumlah sudutnya tidak bisa diganti menjadi 5 karena ditoleransi jumlahnya. Ketika jumlah sudutnya ditambah menjadi 5, Namanya bukan lagi persegi tetapi polygon. Pun demikian bila Panjang antar sisinya tidak sama Panjang, Namanya bukan lagi persegi, bisa jadi persegi Panjang. Ini yang dimaksud prinsip, aturan, hukum. Tidak boleh diganti ganti. Ketika diganti, bukan lagi persegi, tetapi bentuk lain 

Contoh simpel kedua. Roda, disebut roda karena bentuknya yang bulat dan bisa menggelinding. Roda dipakai pada kendaraan roda dua, roda empat ataupun kendaraan lain. Namanya bukan lagi roda apabila bentuknya diubah menjadi persegi Panjang. Fungsinya sudah berubah. Gak bisa lagi gelinding. Ketika tidak bisa menggelinding, sudah pasti bukan roda. 

Ini maksudnya prinsip. Pun juga dengan agama. Agama itu sebuah prinsip, kepercayaan yang dianut oleh pemeluknya. Prinsip agama memiliki aturan masing masing. Kita tau di dunia ini, diakui beberapa “agama” dengan kepercayaan dan prinsip masing masing. Nama agama nya berbeda beda karena memang memiliki prinsip yang berbeda beda pada beberapa hal. Ketika prinsip agama itu diubah ubah, maka agama tersebut sudah bukan lagi agama sesuai awalnya. 
Orang Kristen memiliki prinsip kalau tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Tuhan nya, disebut sebagai hari Natal. Mereka percaya kalau Tuhan mereka dilahirkan pada tanggal 25 Desember.  Maka, mereka merayakan hari tersebut dengan cara nya masing masing. 

Orang islam juga memiliki prinsip, prinsip yang tidak bisa diubah, ditambah atau dilanggar. Prinsip orang islam adalah kalau tanggal 25 Desember itu bukan lah hari suci. Bukan hari kelahiran Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah dilahirkan. Kapan dan dimana. Karena memang Tuhan itu lah yang menciptakan, bukan dilahirkan. Ketika orang islam “dipaksa” mengakui tanggal 25 Desember itu sebagai hari kelahiran Tuhan, maka otomatis prinsipnya sudah berubah. Agama nya bukan lagi murni islam. Prinsip islamnya sudah berubah. 

Wajar sekali ustadz, ulama, pemuka islam melarang orang islam untuk mengatakan selamat natal. Karena kalimat ini memiliki efek yang besar. Keislamannya pemeluk islam yang mengatakan selamat natal bisa menjadi batal. Karena mereka secara langsung mengatakan ada Ilah lain selain Allah

Disini kita harus sadari dari awal. Masing masing orang memiliki kepercayaan dan prinsip yang dipegang teguh dan gak boleh diubah ubah. Prinsip tetap prinsip. Prinsip tidak boleh diubah hanya karena kata kata toleransi. Toleransi harusnya ada pada hal hal yang bukan prinsip dan kepercayaan. 

Mendekati Desember, kata kata toleransi akan semakin banyak terdengar. Hal ini karena ada 1 hari yang dipercaya oleh teman teman, guru, dosen kita sebagai hari besar mereka. 

Bagi teman teman, bapak bapak, ibu ibu yang memiliki kepercayaan berbeda, silahkan saja. Tulisan ini bukan berarti memaksa kalian masuk kepada Islam. Karena di Islam tidak ada pemaksaan kepada orang lain untuk masuk kepada islam. 

Mari kita saling bertoleransi pada hal hal yang bukan prinsip. Kepada rekan rekan, saudara saudara, ibu bapak yang menjalankan kepercayaannya di ujung Desember, selamat merayakan sesuai kepercayaan.

Penjelasan yang saya tulis ini memiliki dasar dan prinsip. Keterangannya ada di video ustadz Haikal Hasan berikut ini. 



ada juga penjelasan bunda Irena Handono tentang apa yang terjadi pada 25 Desember .




Share:

Cara kapitalisme menguasai dunia

Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).
Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.
Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?
Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.
Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.
Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?
Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.
Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).
Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?
Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.
Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini? Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?
Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.
Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).
Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.
Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.
Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.
Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.
Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.
Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?
Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.
Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya. 
Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.
Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?
Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.
Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?
Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?
Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya.
Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.
Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.
Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.
Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?
Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.
Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia. [Dwi Condro Triyono, Ph.D]
Share:

DESAIN KESEJAHTERAAN

Tulisan bagus dari Kang Rendy Saputra di akun facebook nya.... Silahkan disimak. 
Di kampus dulu, saya punya mentor rekayasa sosial. Ajaran yang paling Saya gak lupa adalah bahwa... ukuran masyarakat sehat itu hanya berpijak pada 2 hal : keamanan dan kesejahteraan.
Di titik kemanan, sebuah masyarakat membangun sistem pertahanan, supremasi hukum, ketertiban dan berbagai hal terkait dukungan rasa aman.

Di titik kesejahteraan, disinilah berbagai pendekatan dilakukan. Dan seharusnya, ketika kita berbicara tentang kesejahteraan, tugas ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah yang jumlahnya hanya 4,5 juta jiwa, tetapi menjadi tanggung jawab bersama 250 juta jiwa penduduk Indonesia.
Salah satu pendekatan dalam mendesain kesejahteraan adalah Produk Domestik Bruto (PDB). Pada tahun 2017, PDB negeri ini sudah menyentuh Rp 13.588,8 T. Ini berarti kita sudah memasuki negeri dengan PDB diatas 1T USD. Nomor 17 Sedunia.
PDB berbicara tentang banyaknya, tetapi kesejahteraan juga harus berbicara tentang kemerataannya. Maka Saya menyederhanakan desain kejesejahteraan dengan dua ukuran besar : BESARAN dan SEBARAN.
Pada ukuran BESARAN, kita harus bekerja keras untuk menaikkan angka 13.588T, karena di titik 13.588,8T, pendapatan perkapita anak negeri hanya sekitar 50 juta setahun atau 3.800 USD. Padahal negara maju membutuhkan ukuran pendapatan perkapita senilai 7.000 USD. Berarti angka 13.588T harus kita develop sampai 26.000T, baru bisa dianggap bangsa sejahtera.
Tetapi untuk apa sebuah BESARAN jika SEBARAN nya tidak merata.
Misalnya nilai PDB di sebuah kampung senilai 1M. Ada 2.500 KK, dan ada 9 keluarga yang menguasai aliran PDB senilai 900 juta, dan 100 juta terbagi-bagi ke 2.491 keluarga lainnya. Di titik inilah kesenjangan terjadi, dan disinilah kemiskinan terasa.
Maka, fikiran kita sebagai anak bangsa harus selalu mengacu pada BESARAN dan SEBARAN.
Tulisan berikut ini adalah usaha untuk menaikkan kedua hal tersebut. Meningkatnya BESARAN dan meratanya SEBARAN kekayaan negeri ini.
*****
BESARAN
1. Meningkatkan daya produksi barang dan jasa.
Strategi pertama ini konvensional. Menaikkan PDB sudah jelas dengan meningkatkan produksi baik pada barang maupun jasa.
Tapi Saya ingin menekankan kesadaran inti dari strategi ini. Kita harus mendorong bagaimana agar seluruh anak bangsa ini memiliki hasrat memproduksi sesuatu. Hasrat BERKARYA. Hal ini harus kita dorong mulai dari entitas terbesar hingga entitas terkecil dalam skala keluarga.
Lahan yang tidur harus diolah menjadi produktif.
Lahan bekas tambang yang teronggok harus difikirkan bagaimana agar bermanfaat. Jangan diam begitu saja.
Potensi alam harus digerakkan menjadi destinasi-destinasi wisata baru, ini akan mendorong jumlah jasa yang dihasilkan dan dibeli.
Satu sel keluarga harus berfikir untuk memproduksi sesuatu. Walau dalam skala kecil dan sederhana, tetapi SEMANGAT untuk membuat dan menjual sesuatu harus didorong dari entitas terkecil bangsa ini.
2. Bergerak mengolah sesuatu ; negara industri.
Setelah semangat membuat, maka selanjutnya harus ada semangat MENGOLAH.
Begini, Anda jualan beras. Anda beli beras dari distributor besar, lalu menjualnya di lingkungan komplek Anda. Ini namanya ambil beras lalu jual beras. Tidak ada mengolah sama sekali. Maka selisih harga yang diambil bisa jadi hanya 2-5%. Konon demikian.
Berbeda jika Anda beli beras lalu jual nasi goreng. Apalagi jika nasi gorengnya Anda jual di outlet yang baik tampilannya, resto, ditambah lagi Anda bumbui dengan konsep branding yang komprehensif. Jadi deh nasi goreng MAFIA. Ha ha ha... beda tuh harganya.
Mari kita ukur nilai si harga jual beras dibanding dengan harga jual nasi goreng.
Misalnya 1 piring nasi sekitar 100 gr beras.
1 kg beras memiliki harga jual end user Rp 14.000,00.
Berarti 100 gr beras nilainya Rp 1.400,00. Ditambah komponen ayam, telor dan bumbu, anggap seluruh bahan baku Rp 7.000,00. Harga jual nasi goreng bisa si Rp 25.000,00 - Rp 30.000,00
Pengolahan membuat nilai ekonominya naik hingga 4x lipat.
Ini kita baru bicara beras, belum lagi kita bicara tembaga. Hari ini kita ekspor tembaga, tetapi kita sedang berniat impor 10.000 km kabel tembaga untuk proyek 35.000 MegaWatt powerplant. Terasa ada yang salah?
Kita mengirim tembaga 1$ dan harus mengimpor kabel tembaga yang harganya bisa jadi puluhan kali lipat.
Kita punya alumunium, mau jual alumunium saja, atau kita jadikan pesawat dulu?
Kita jual besi baja, atau jadikan di baja jadi sasis mobil.. buat rangka turbin... bikin mesin-mesin pengolahan... mana yang sekiranya bisa menaikkan PDB?
Mengolah artinya menambah nilai ekonomi dari suatu barang. Ada proses yang dilakukan atas bahan baku yang ada, menjadi sesuatu yang lebih tinggi nilai manfaat. Inilah semangat dari manufaktur, disinilah semangat dari negara industri.
Ada ukuran sederhana dari kekuatan manufaktur sebuah negeri, yaitu konsumsi baja per kapita. Jumlah konsumsi baja dibagi dengan seluruh jumlah penduduk negeri.
Ukuran standard negara maju adalah 300 kg per kapita. Sudah termasuk konsumsi baja industri, membangun gedung, rumah, jembatan dan lain-lain. Pokoknya dalam setahun, berapa juta ton baja yang terpakai untuk pembangunan, lalu dibagi dengan jumlah penduduk negeri.
Korea Selatan memiliki indeks 1,02 ton per kapita, Jerman 460 kg per kapita, dan Indinesia hanga 4 kg per kapita. Jauh dari 300 kg per kapita.
Indeks ini adalah indikasi dari sejauh mana semangat manufaktur dalam pembangunan nasional.
Selain mengolah langsung, ada pula alur tak langsung yang harus kita cermati.
Kita memiliki sumber daya alam, misalnya batu bara. Ambil batu bara secukupnya, gunakan sebagai tenaga listrik powerplant, gunakan sebagai energi panas peleburan baja, semua kita pakai untuk konsumsi manufaktur dalam negeri.
Dari proses manufaktur tersebut, lahirlah produk-produk unggul ekspor nasional. Maka hitungan nilai ekonomis batu bara bagi bangsa bukan berada pada 100$ per ton, tapi akan lebih tinggi dari itu, karena batu bara yang kita ambil menjadi bahan baku industri nasional.
3. Menargetkan selisih positif ekspor atas impor.
Setelah kita membangun imajinasi sebagai negara industri, maka selanjutnya kita harus berfikir... setelah BIKIN ... JUAL kesiapa?
Yang pertama, jelas untuk kebutuhan domestik, tetapi untuk menambah raihan sales, harusnya kita juga MELAKUKAN apa yang negara maju lain lakukan : berjualan di pasar luar negeri.
Produk asing menyerang market Indonesia. Dari sudut pandang negara mereka, "produk nasional mereka menyerang market asing". Inilah jenis peperangan yang terjadi hari ini : "rebutan market share".
Sekuat tenaga, bangsa ini harus berfikir tentang bagaimana menjual produk dalam negeri ke luar negeri.
Kita pasti butuh beli produk luar negeri. Bisa jadi karena kita gak punya, atau belum bisa bikin, tetapi jangan sampai angkanya melebihi ekspor.
Ekspor 10
Impor 4
Jadi selisih 6
Ini baru OK.
Dalam sebuah cuplikan video pendek Pak Harto, ketika negeri ini swasembada beras, kita sempat "meminjamkan" stok beras kita ke VIETNAM, ke THAILAND... dan negeri-negeri yang memang membutuhkan.
Kejadian itu terjadi pada range 1984 sd 1994, begitu potongan video yang saya simak. Namun apa yang terjadi hari ini, vietnam menjadi negara pengekspor beras terbesar ke-2 dunia. Dan salah satunya ekspor ke Indonesia. Susah menalar apa yang terjadi.... how could it be....
4. Meningkatkan aliran uang masuk dari tenaga kerja dan wisatawan mancanegara.
Setelah kita berbicara tentang produk barang. Mari kita masuk pada pendekatan jasa.
Info dari remintance transferan uang pekerja migran Indonesia di Taiwan, terdapat 1T aliran uang setiap bulannya... masuk ke negeri Indonesia.
Transferan uang cash, langsung masuk ke ratusan ribu keluarga PMI di Indonesia. Aliran ini berasal dari sekitar 260rb tenaga kerja Indonesia di Taiwan.
Lulu Mart, sebuah supermarket milik seorang India-Muslim, telah menjadi jejaring super market besar di timur tengah. Ada yang unik dari Lulu Mart, pekerjanya dominan India, dan dari satu daerah tertentu di Kerwala. Yang menarik, walau mereka bekerja di Lulu mart Dubai, setengah dari gaji mereka ditransfer ke ke rekening keluarga mereka di India. Autodebet. Wajib. Gak boleh menolak. Setengah sisanya bisa dinikmati di Dubai.
Ini adalah pendekatan positif pada pertumbuhan ekonomi. Bisa dijadikan model. Jadikan Indonesia negara penyuplai tenaga kerja profesional ke berbagai negara yang MINUS angkatan kerja produktif. Bahkan bisa jadi perusahaan nasional yang menancapkan kukunya je berbagai negeri. Sambil bawa SDM Indonesia.
Jadikan strategi, bangun lembaga pelatihan yang tepat output. Ajarkan bahasa, keterampilan yang dibutuhkan, bentuk karakter dan mentalnya. 1 tahun beres, kirim ke luar negeri. Solidkan dengan bentuk asosiasi pekerja asal Indonesia.
Bangun koloni. Bangun knowledge management di negeri orang. PASTIKAN karir naik. InsyaAllah SDM negeri ini akan meraih gaji maksimal, dan tentu ada aliran deras ke keluarga mereka di Indonesia. Setidaknya untuk kedua orang tua mereka, sanak saudara, atau bahkan investasi bisnis UMKM di dalam negeri.
Berikutnya adalah membangun aliran wisatawan mancanegara ke negeri ini. Alirkan dengan massive dan penuh strategi program.
Kita sudah punya bandara-bandara besar di negeri ini. Syarat sebagai bandara internasional sudah dimiliki oleh beberapa titik bandara di Indonesia. Tinggal sekarang bagaimana mengalirkan wisatawan dari luar negeri.
Cari objek alam yang bisa digagas jadi destinasi wisata.
Lakukan studi kelayakan dan konsep bisnis pada destinasi tersebut.
Bawa dana investasi untuk set up destinasi wisata.
Bangun pola marketing yang tepat untuk menarik pasar wisatawan luar negeri.
Pastikan wisatawan mancanegara yang hadir ke negeri ini MEBELANJAKAN semua budget wisatanya.
Dan jadikan mereka referral marketing untuk menarik wisatawan asal negara mereka. Rawat tier 1.
Jika 100rb wisatawan dari UAE bisa hadir di Thailand, mengapa hanya 10rb yang mendarat di Indonesia. Kira-kira salahnya dimana ya?
*****
SEBARAN
1. Menambah jumlah pengusaha besar.
Sahabat, beredar di banyak tulisan, silakan saja nanti cek kebenarannya, ada 1% populasi negeri yang menguasai 50% putaran uang. Saya juga belum ngecek... hehehehe...
Andai itu benar... andai lho ya....
1% dari 250 juta ini 2,5 juta orang.
50% dari putaran uang itu kira-kira begini....
13.500T dikurangi 2.500T APBN = 11.500T
ini adalah PDB non APBN, artinya ini belanja swasta non government. Jika setengahnya, berarti sekitar 6.750T berputar di 2,5 juta populasi. Heheheheh... dan 6.750T sisanya beredar di sisa populasi.
Jika ditanya mengapa hanya 1%, curiga hanya memang SEGITU yang berniat melayani pasar dengan SERIUS.
Maka untuk meratakan sebaran kesejahteraan ini, kita perlu MENAMBAH PEMAIN pada MARKET. Dan pemainnya ini haruslah pemain yang berniat membesar.
Omset salah satu brand ayam goreng waralaba asing mencapai 4T lebih, digarap dengan 500 outlet lebih. Kabar gembiranya, hari ini hadir ribuan outlet "ayam goreng brand nasional" yang berjuang meraih serupiah demi serupiah dari 4T ini. Marketsharenya sedang dilayani rame-rame.
Kompetisi ini mendorong lahirnya kualitas layanan prima ke pasar. Disisi lain, sebaran omset yang tadinya dikuasai oleh segelintir pihak, kemudian terbagi ke beberapa pemain.
Disinilah peran dan niat dari Serikat Saudagar Nusantara (SSN). Kita lagi pengen banyakin pemain besar.
2. Membangun regulasi PRO pemerataan.
Begini, kita gak bisa maksa yang besar untuk membagi marketnya ke pengusaha lainnya. Di alam bisnis ini, kita sebagai entrepreneur medium gak bisa ngomong ke yang besar-besar : "bagi marketnya donk om..."
Kita mungkin gak bisa, tetapi PEMERINTAH bisa. Hehehe....
Tenang dulu ya... yang besar-besar tenang dulu...
Di berbagai negara maju, contoh saja Amerika serikat, Swasta Nasionalnya didukung pemerintah untuk jualan ke negara lain. Inget gak Pak Obama nemenin Boeing MoU pembelian pesawat oleh LION di Denpasar?
Jadi narasinya begini.... perusahaan besar kita minta untuk mendelegasikan beberapa proses bisnisnya ke perusahaan rekanan nasional. Tetapi balasannya, bantu swasta nasional raksasa untuk raih pasar internasional.
Misalnya, 6000T dishare sebagian ke pengusaha menengah. Anggap lah proses 3000T dibagi ke pengusaha nasional level dibawahnya. Tetapi pemerintah membantu swasta nasional raksasa untuk meraih total 50.000T ke luar negeri. Pakai tangan pemerintah. Jika kejadiannya G to G... pasti dampaknya berbeda.
Sensitif bahas regulasi pro pemerataan. Intinya semangatnya itu. Semua bahagia. Ini memang tugas berat pemerintah, yang besar bahagia, dan yang menengah juga bahagia.
3. Mensiasati konsep kepemilikan dari private ke koperasi.
Jika suatu perusahaan besar punya revenue 1T, anggaplah cost operasinya 700M, maka keuntungannya 300M. Si 300M inilah yang masuk kantong sang pemilik. Jika pemiliknya 9 perusahaan raksasa, maka 300M masuk ke 9 kantong.
Bayangkan jika perusahaan ini dimiliki oleh koperasi. Saham koperasi 70% dan manajemen 30%. 70% dari 300M itu 210M... lalu anggota koperasi yang punya saham ada 210.000 orang. Kebayang 1 orang dapat berapa kan? 1 juta per orang bagi hasil usahanya.
Proses bisnisnya sama...
Keuntungannya sama...
Tapi sebaran dari keuntungan tersebut mengalir ke banyak orang...
Yang kita OPERASI adalah pola KEPEMILIKANNYA.
Bangsa ini punya populasi besar. Akan ada 195 juta angkatan produktif di 2030. Jika ada koperasi perserikatan swasta nasional yang anggotanya 20 juta orang, ketika masing-masing urunan 1 juta rupiah, maka dalam 1 malam, sudah terkumpul 20T.
20T itu.. Anda bisa beli 30 pesawat boeing 737-800 dalam 1 malam.... bayangkannnnnnnnnnnnnn......
Tinggal konsep koperasinya. Alangkah baiknya... koperasi membentuk PT terpisah. Koperasi punya saham 70-80%, 30-20% serahkan ke para CEO yang mengelola PT.
Para BOD adalah orang-orang yang ngerti natural bisnisnya. Pilih BOD yang bisa eksekusi bener. Konteskan aja. Dengan begini bisnis akan berlangsung akuntabel, lurus dan menghasilkan.
Bisa gak yah.. koperasi 20 juta anggota? Hehehehe....
******
Panjang ya Saya nulis, pokoknya Saya akan tuliskan terus fikiran-fikiran Saya. Topik tujuannya cuma satu : NEGERI BERDAYA. Kuat ekonomi. Kuat pertahanan. Kuat ikatan sosial.
Kita sudah menbahas diatas, bahwa untuk menjadi negara maju, kita butuh PDB di angka 26.000T, agar pendapatan per kapita kita berada di 7.000 USD.
Hari ini PDB kita di 13.588T. Jika pertumbuhan ekonomi hanya 5%, maka itu sekitar 600T.
Anggap kita tumbuh konstan 600 T per tahun, maka untuk menuju 26.000 T, kita masih butuh 20 tahun lagi. Saya yakin gak selinier ini. Kemungkinan bisa 15 tahun. Tapi tetap aja... lamaaaaaa.....
Menurut Saya, ketika kita mampu bekerja sebagai tim, antara swasta nasional dengan pemerintah, kita bisa sama-sama kejar pertumbuhan ekonomi nasional lebih dari 5% pertahun. Bahkan bisa 10% lebih...
Asalkan kita kompak... solid.. politik stabil... fokus added value.. pinter jualan... lincah.. gesit.. dan gigih berjuang di medan dagang dunia.
Sekali lagi, mari kita sadari, bahwa kerja pertumbuhan ekonomi nasional bukan hanya tugas pemerintah. Karena memang ia adalah akumulasi kerja seluruh anak negeri.
Menuju PDB Negeri 26.000 T
Lebih cepat... segera...
Narator Bangsa,
Rendy Saputra
"Yang besar pasti butuh yang kecil, supaya yang kecil tetap bisa belanja ke yang besar. Kalo yang kecil mati, yang besar akan ikutan juga..."
Share:

Kisah Adi dan Ade tentang Allah yang Maha Baik


Ini juga salah satu kisah yang saya sukai dari ceramah salah seorang ulama tersohor di Indonesia. Gaya bahasa cerita beliau mudah dan sederhana, membuat siapapun yang mendengar ceramah beliau mampu memahami nya dengan mudah. Mudah mudahan Allah muliakan beliau dan keluarganya. Aamiin. Mudah mudahan cerita yang saya tuliskan ini tidak mengubah makna aslinya. Begini ceritanya.
Gambar hanya ilustrasi

Alkisah Adi, seorang anak kelas 3 SD yang akan pergi berdarma wisata ke suatu tempat liburan. Acara yang diadakan oleh sekolahnya ini mewajibkan iuran kepada sebesar Rp 150.000 untuk keperluan tiket dan konsumsi. Datanglah ia menghadap ayah nya untuk meminta iuran tersebut.

"Ayah, ada yang adi pengen minta ke ayah.", pinta adi kepada ayahnya yang sedang membaca buku.

" Iya Adi. apa yang mau adi minta?" tanya ayahnya sambil tersenyum dan menutup buku yang sedang dibacanya dan fokus menatap Adi. 

"Ini ayah. kan minggu depan, di sekolah kan ada acara darma wisata ke kebun binatang. Ini ayah, maksudnya, adi mau minta uang iurannya ayah. iurannya 150 ribu." pinta adi dengan setengah malu. 

"Adi, untuk bisa pergi ikut berdarma wisata, bukan uang yang menentukan, Di. Tapi takdir Allah. Kalo Allah sudah menakdirkan Adi berangkat pergi darma wisata minggu depan, minggu depan Adi pasti berangkat kok. Gak mesti pakai uang.”  jawab ayahnya meyakinkan dengan senyum yang manis.

“Hem... begitu ya yah. Tapi yah, kata ibu guru, kalo mau berangkat darma wisata, harus bayar iurannya dulu yah. Kalo gak bayar,  gak bisa ikut darma wisata yah” jawab adi beralasan.

“Bukan Adi. Yang membuat Adi bisa berangkat darma wisata itu bukan uang Di, tapi karena takdir Allah. Kalo Allah sudah takdirkan Adi berangkat, adi pasti berangkat kok.”

“Beneran yah?” tanya adi ragu ragu.

“Insya Allah Di. Bila Adi sudah ditakdirkan berangkat, Adi pasti berangkat kok. Sekarang tugas adii, ambil wudhu sana dan segera sholat sunnah. Minta ke Allah Di. Mudah mudahan takdir Adi bisa berangkat. Cepetan giih." ucap ayahnya sambil tersenyum. 

"Tapi yaaah... " potong adi dengan wajah sedikit memelas. 

"Udah di. ayo segera dikerjakan sana" jawab ayahnya dengan raut muka tersenyum.
Adi pun lalu mengerjakan perintah ayahnya dengan sedikit bermalas-malasan. Ia mengerjakan sholat sunnah dua rakaat dengan sedikit terpaksa.

“Ya Allah, saya ngelakuin perintah Ayah saya ya Allah. Saya minta ya Allah, kasih uang saya ya Allah untuk bisa ikutan darma wisata ya Allah” itu Doa adi setelah sholat sunnah.

“Hus.... adi. Jangan gitu doanya Di. Minta ke Allah takdir terbaik di.” Kata ayahnya menimpali doa adi.

“Ya Allah.. kabulkan sesuai kata Ayah Adi ya Allah”

“Adiiiii.... jangan gitu doanya Di”

“ ya Allah. Adi minta ditakdirkan takdir terbaik ya Allah. Aamiiin.”

Adi pun selesai berdoa dan langsung tidur. Ibunya Adi yang mendengar percakapan antara suami dan anaknya itu langsung ngobrol dengan suaminya itu.

“Yah ayah. Adi kok sudah disuruh gitu yaah. Kasian adi yah” ucap ibu adi yang memulai pembicaraan.

“Gak pa pa bu. Kita usahakan sedini mungkin mengajari Adi tentang ilmu tauhid bu. Ilmu tentang bagaimana mengenal Allah bu. Biar Adi semakin mengenal Allah bu. Apa yang adi dapatkan di hidupnya nanti, itu semua pemberian dari Allah bu.”

“Tapi yah.. Adi kan masih kelas 3 SD yah.”

“gak pa pa bunda Adi yang solehah. Percaya deh sama ayah.” timpal ayah adi dengan senyuman manis.

“Iiih ayah.. apaan sih yaaah” jawab ibu adi malu malu.

Malam pun semakin larut. Adi makin terlelap di tidur panjangnya.

Keesokan harinya, ibu Guru mendata murid murid yang membayar uang iuran darma wisatanya. Ternyata, hanya Adi dan satu orang temannya yang belum bayar iurannya.

“Adi. Kapan adi bayar uang iuran darma wisatanya Di?” tanya Bu guru kepada Adi.

“Nah itu dia bu Guru. Kata Ayah Adi, untuk bisa berangkat darma wisata, yang dibutuhkan bukan uang bu, tapi takdir Allah Bu.” Jawab Adi dengan polos
“Tapi kan Di. Adi harus tetap bayar Di”

“Itu diaaaa Bu. Saya juga sebenarnya bingung Bu. Pokoknya gitu lah bu” jawab Adi dengan bingung.

“Ya sudah Di. Gak pa pa. Ibu tunggu paling lambar 2 hari lagi ya uang iurannya”

“Baik Bu”


Jam sekolah telah selesai. Adi dan teman temannya pulang ke rumah. Tak seperti teman temannya yang senang karena akan pergi darma wisata, Adi pulang ke rumah dengan sedikit murung. Ternyata langkah Adi yang gontai diperhatikan oleh ayah Ibunya.

“Adiii, kemari Di.” Ayah adi memanggilnya dari ruang tamu. Adi masih asyik membaca buku di kamarnya.

“iya yah. Adi kesana yah” jawab Adi dengan semangat.

“Di.. ini ada uang Rp 150.000. Terima ini ya Adi, ini untuk bayar uang iuran darma wisatanya”

“Alhamdulillah.. akhirnya Ayah kasih uang iurannya”

“tapi Di... Itu bukan untuk Adi, melainkan untuk teman Adi yang gak bisa bayar uang iurannya. Kan kemarin Adi bilang ada 1 orang teman yang gak bisa bayar uang iurannya. Jadi uang itu Adi pakai untuk bayar iuran teman Adi ya”

“Lah, uang iuran untuk Adi mana yah? Kan harusnya 300 ribu. Untuk Adi dan 1 orang teman Adi”

“Adiii.. masih inget apa yang ayah bilang kemarin malam?”

“Maaa....siii...h yah.” Reaksi adi jadi tidak bersemangat. “Untuk bisa berangkat, bukan uang yang menentukan, tapi takdir Allah”

“Tuh Adi masih inget. Jadi, besok bayarin ya, untuk iuran teman Adi”

“Baik Ayah” Adi pun mengiyakan ucapan ayah nya dengan sedikit bingung.


Keesokan harinya, seperti biasa murid murid belajar dengan baik. Cuaca nya cukup cerah. Matahari kelihatan malu malu muncul dari balik awan. Terdengar kicauan suara burung di atas pohon yang terletak di depan ruangan kelas Adi. Tibalah saat Bu Heni, koordinator darma wisata datang ke kelas Adi. Kedatangannya sudah jelas, menagih uang darma wisata.

“Anak anak, ada yang mau bayar uang iuran lagi kah?” tanya Bu Heni dengan suaranya yang ramah. Terlihat Adi berjalan menuju meja Bu Heni yang terletak di depan kelas sambil merogoh kantung celananya.

“Ya Adi, kemari Adi. Alhamdulillah ya Adi. Sekarang sudah punya uang untuk pergi darma wisata”

“Iyaa, Alhamdulillah Bu. Tapi Bu guru, ini bukan untuk Adi Bu Guru. Ini buat Toni. Kan kemarin Toni bilang dia tidak bisa ikut darma wisata karena gak bisa bayar uang iurannya bu.”

“trus, uang iuran Adi mana?”

“Itu diaaaaa bu Guruuuu. Saya sebenarnya juga tambah bingung lagi Bu guru. Ayah bilangnya uang nya untuk Toni Bu. Kalo Adi, selama ada takdir Allah untuk Adi berangkat, pasti berangkat bu, meskipun gak bayar iurannya Bu” jawab Adi sedikit memelas.

“ begitu ya Di. Ya sudah adi. Ibu tunggu deh kapan Adi bayar iurannya. Paling lambat sebelum berangkat darma wisatanya” jawab Bu Heni yang berusaha menutupi kebingungannya.

Bel pun berbunyi tanda jam pulang sekolah. Anak anak segera berkemas untuk pulang ke rumah masing masing.

Kondisi di rumah Adi juga tak jauh berbeda. Ayah Adi tetap meyakinkan Adi. Bahwa yang bisa membuat Adi berangkat darma wisata, bukan uang iuran, tapi karena takdir Allah. Adi pun hanya bisa berusaha memahami maksud ayahnya.

Tibalah hari itu. Hari dimana anak anak akan pergi berdarma wisata tepat pukul 8 pagi. Titik kumpul untuk pemberangkatan adalah di sekolah. Tapi tidak dengan Adi. Setelah sholat subuh, Adi tidak bergegas menyiapkan perlengkapannya.

“Adi, kenapa tidak siap siap berangkat ke sekolah? Kan hari ini jadwalnya pergi darma wisata.”

“Ayah, kan adi belum bayar iurannya. Jadi udah pasti gak bisa ikut yah.” Nampaknya Adi sudah tidak yakin bisa pergi darma wisata disebabkan belum bayar uang iurannya.

“Adiii.. kan kemarin Ayah bilang. Yang membuat Adi bisa berangkat, bukan uang iurannya Di. Tapi takdir Allah. Kalo Allah takdirin Adi pergi, pasti Adi juga ikut darma wisata. Sekarang Adi mandi dan berangkat ke sekolah.”

“Baik yaaah” Adi kali ini tetap menuruti ucapan ayahnya.

Jam menunjukkan pukul 7 pagi, masih ada waktu 1 jam sebelum keberangkatan. Adi pun berpamitan kepada Ibu Bapaknya.

“Assalamu’alaikum Bu. Assalamu’alaikum yah. Adi berangkat dulu ya” Adi mencium tangan ibu bapaknya sebelum berangkat.

“Wa’alaikumsalam Di. Hati Hati di jalan yaaaa”. Ibu bapak Adi melihat anaknya sampai menghilang di pandangan.

“Bu. Kalo sampe jam 10 Adi sudah pulang, berarti takdir Allah, Adi tidak jadi berangkat bu. Tapi kalo jam 10 Adi tidak pulang, berarti takdir Allah, Adi berangkat bu.”

“Iya yah. Mudah mudahan Allah selalu membimbing dan melindungi Adi ya yah”

“Aamin bu”

Tiba lah Adi di sekolahnya. Anak Anak sudah berbaris rapi dan memasuki Bis yang sudah disediakan. Adi hanya bisa memandangi teman temannya yang tertawa riang sewaktu memasuki bis.

“Adi.. kenapa gak masuk ke Bis.” Tiba tiba Ibu Heni menyapa Adi dari belakang.

“Ini bu guru. Kan Adi gak bayar uang iurannya. Jadi saya gak masuk Bis. Saya datang ke sekolah karena di suruh Ayah Bu” jawab Adi dengan wajah sedih.

“Heeem... gitu ya di. Ya udah, kami berangkat ya Di”

“Iyaa Bu” jawab Adi tambah sedih

Bis pun mulai bergerak dan meninggalkan halaman sekolah. Anak anak tertawa riang dari dalam Bis. Mereka melambai lambaikan tangannya ke arah Adi, termasuk anak yang dibayarin oleh Ayah Adi. Adi pun hanya bisa memandang bis dan teman temannya. Adi termasuk anak yang kuat. Hatinya tetap kuat. Kali ini dia mengingat ucapan Ayahnya. Yang membuat dia berangkat bukan uang iuran, tapi takdir Allah.

10 menit kemudian, sebuah mobil Pajero hitam keluaran terbaru dengan sedikit agak ngebut berhenti di halaman sekolah.

“Adi Adi Adi. Kamu ngapain disini? Kenapa gak berangkat darma wisata?” tanya Ade dari dalam mobil. Ternyata Ade sedang diantar oleh mama nya ke sekolah.

“Iya De. Saya kan gak bayar uang iuran. Jadi saya gak bisa ikut darma wisata De” jawab Adi dengan tegar. “Kamu sendiri De, kenapa masih disini?” tanya Adi kepada Ade

“Iya Di. Saya kira berangkatnya jam 8.30 Di. Jadi saya agak telat persiapannya Di”

“Oh gitu ya De”

Dari dalam mobil, Ade ditanyai oleh mama nya.
“De, itu siapa De? Kenapa dia gak ikut darma wisata?”

“itu Adi ma. Dia gak bayar uang iurannya ma. Jadi Dia gak ikut ma”

“Gitu ya De. Hemm.. De, panggil Adi masuk mobil Nak. Kita susul temen temen ke kebun binatang, tempat darma wisatanya De” perintah mama Ade untuk mengajak adi masuk mobil.

“Di, ayo sini masuk mobil Di. Kita susul teman teman kita ke kebun binatang Di”

“Beneran ini De? Beneran tante?” tanya Adi dengan wajah berbinar binar seakan tak percaya.

“Beneran Nak. Ayo sini masuk” Jawab mama Ade meyakinkan. Akhirnya, Mobil itu pun melaju ke kebun binatang, tempat darma wisata.

Jam sudah menunjukkan pukul 10. Ibu Adi menanti dari balik jendela dengan harap harap cemas, memikirkan anak yang dicintainya itu.

“Sudah Bu. Jangan khawatir Bu. Adi sudah berangkat ke kebun binatang bu.” Ayah adi coba menenangkan ibunya.

“Iyaaa. Mudah mudahan ya yah. Mudah mudahan Allah selalu menjaga dan melindungi Adi ya yah”

“Aamiin”


Sementara itu dari dalam mobil, butiran bening mengalir dari mata Adi. Tangisnya yang sedikit terisak itu diketahui Ade.
“kamu kenapa Di? Kok nangis?” tanya Ade penasaran. “kamu belum pernah naik mobil bagus ya?” Ade coba bercanda untuk menghibur adi. Kali ini isakan tangis Adi semakin kuat.

“Allah Maha Baik De” isakan tangis adi terdengar makin kuat.

“iya, Allah maha Baik. Tapi kenapa Di? Aku bingung, tolong dijelaskan”  tanya Ade semakin penasaran. Ibunya Ade yang menyetir mobil juga penasaran kenapa Adi menangis.

“jadi gini de, tante. Sebelum berangkat darma wisata, saya minta uang iuran ke ayah. Tapi ayah bilang, untuk bisa berangkat darma wisata, yang menentukan berangkat itu bukan uang. Tapi takdir Allah. Makanya Ayah gak kasih uang iurannya De. Saya juga awalnya bingung De gimana caranya. Tapi sekarang Ayah benar De. Allah maha Baik De. Temen temen yang bayar semuanya naik bis yang pas pasan De. Ac bisnya juga kemungkinan gak Ada. Nah saya sekarang, gak perlu bayar, tapi bisa berangkat. Gak kepanasan, tapi nyaman dengan AC mobil ini De” jawab adi sambil mengusap air matanya

“ooooo... gitu yaaa. Ya ya Di. Allah Maha Baik ya Di.” Jawab mama Ade yang menyimak jawaban Adi. “Didepan ada toko makanan, Tante berhenti dulu beli makanan untuk kalian ya.”

“iya tante” jawab Adi yang ternyata belum berhenti nangisnya.

20 menit kemudian, mama Ade kembali dengan 2 bungkusan besar yang berisi makanan.

“Ini De, Ini Di makanannya. Silahkan dimakan makanan yang disukai ya”

“Baik Ma. Baik Tante” jawab adi dan ade dengan serentak. Kali ini tangisan adi berlanjut lagi. Sekarang isakannya malah lebih keras.

“Adiii... udah dong nangisnya. Dari tadi nangis terus”. Sekarang isakan tangis adi malah lebih keras. “Emang kenapa lagi Di? Belum pernah makan makanan enak ini ya?” tanya ade penasaran sambil bercanda.

Sambil menahan tangisnya, Adi mencoba menjawab. “De, teman teman kita yang bayar sekarang belum tentu dapat makanan dan minuman sekarang di bis. Sedangkan saya yang gak bayar, malah sekarang dapat makanan dan minuman yang enak. Ini yang buat saya tambah bersyukur ke Allah De. Allah itu Maha Maha Baik De”. Tak terasa air mata mengalir dari kedua mata Ade dan mamanya. Iya, Allah memang Maha Baik.

Mobil pun terus melaju ke kebun binatang dengan persediaan makanan dan minuman yang cukup untuk perjalanan pergi dan pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kegiatan darma wisata pun selesai. Anak Anak berjalan pulang ke rumah masing masing.

“Assalamu’alaikum.” Adi mengucapkan salam di depan pintu rumahnya sambil berlari ke dalam mencari Ibu dan ayahnya.

“wa’alaikum salam. Eh Adi udah pulang” jawab ayahnya

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaah. Ibuuuuuuuuuuuuuu” Adi berlari dan memeluk ibu bapaknya. “Allah Maha Baik yah. Allah maha Baik Bu” tangis Adi pecah. Air mata keluar sederas derasnya.

Iyaaa Di. Allah Maha Baik” Tangis Ayah ibu nya pun pecah. Adi menceritakan kejadiannya dari awal dengan penuh haru.

Yaaa... Allah Maha Baik. J




Share:

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
  • ()
  • ()
Tampilkan selengkapnya